Arti Penting
Mengenal Gangguan Syaraf
Peternakan ayam
saat ini mengalami perkembangan yang pesat di Indonesia selama kurun waktu satu
dekade ini. Terbukti dari data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan tren
peningkatan populasi ayam, baik itu jenis ayam petelur maupun pedaging.
Pesatnya perkembangan ini tidak lepas dari peran serta para peneliti dan
pengembang para pelaku industri ini, dari mulai cara-cara tradisional yang bagi
sebagian kalangan merasa perlu “dilestarikan” karena kepercayaan pada cita-rasa
daging ayam yang harus kembali pada selera asli yang tetap terjaga, hingga
dikembangkan pada jenis peternakan ultra-modern yang mampu menghasilkan
produksi unggas dengan trend kemampuan produksi yang berbanding positif dengan
laju pertumbuhan penduduk. Setelah melalui serangkaian perkembangan tata-cara
beternak, didapat sebuah cetak biru manajemen pemeliharaan ayam yang kompleks
dan intensif, dengan konsekuensi akhir yang ingin didapat adalah idealitas dalam
memperoleh efisiensi produksi dengan kemampuan produksi yang maksimal.
Beternak ayam
memang gampang-gampang sulit. Tidak hanya pengetahuan tentang manajemen dan
kesehatan hewan yang dibutuhkan, akan tetapi harus dibarengi pula dengan
ketelatenan dan kepekaan dalam melihat kondisi ayam. Biasanya peternak sudah
mempunyai standar manajemen pemeliharaan ayam, mulai dari sanitasi dan
desinfeksi pra chick-in¸program pakan
dan minum, litter, pencahayaan, manjemen ventilasi yang memperhatikan aspek
suhu, kecepatan angin dan kelembaban, serta program vaksin dan kegiatan insidental
lain.
Pendedahan mengenai
manajemen pemeliharaan tidak akan dilakukan di sini, namun lebih kepada berbagai
macam peristiwa keanehan yang seringkali menyertai dalam pemeliharaan unggas modern.
Salah satu yang sering dijumpai adalah adanya kondisi ayam yang abnormal, salah
satunya adalah paralisis, yaitu kehilangan fungsi otot pada salah satu bagian
tubuh atau singkatnya disebut dengan kelumpuhan dan paresis yaitu paralisis
yang bersifat ringan atau sebagian, yaitu ketika ayam kelihatan lemah dan malas
untuk berjalan. Istilah yang sering di cetuskan masyarakat peternak unggas
adalah bahwa ayamnya mengalami ‘pengkor’, yang sebenarnya kondisi
pengkor/kelumpuhan pada kaki baik dialami di kedua kaki (bilateral) atau hanya
terjadi pada salah satu kaki (unilateral) hanyalah salah satu dari akibat dari
gangguan sistem syaraf.
Kondisi
gangguan syaraf terjadi ketika otak, spinal
cord atau suatu bagian syaraf terganggu. Kondisi ini dapat menyerang ayam
pada berbagai umur. Tanda-tanda yang terjadi yaitu kelemahan syaraf yang
menyebabkan ayam sulit berdiri dan berjalan sampai kelumpuhan kaki total, leher
terpelintir atau berputar ke sisi lain, kepala mendongak ke atas sehingga ayam
terlihat hilang arah, sampai gejala lain seperti gemetar atau menggigil.
Dapat
dibayangkan apa yang terjadi jika ayam yang dipelihara mengalami
gangguan-gangguan seperti tersebut diatas. Dimulai dari ayam akan mengalami
penurunan konsumsi pakan karena kesulitan menjangkau tempat pakan yang dapat menyebabkan
penurunan performa produksi. Hal ini tentu saja akan diperparah dengan
kemungkinan terjadinya penurunan daya tahan tubuh ayam, sehingga meski
diberikan vaksinasi atau rangkaian tindak pencegahan penyakit, secara alami
ayam tidak mampu memproteksi dirinya sendiri, kemudian diikuti dengan masuknya
agen penyakit yang memiliki nilai ekonomis, hasil akhirnya dapat diprediksi :
terjadi outbreak dalam kandang. Masuk akal bukan? Itulah mengapa kita harus
mengenali abnormalitas ini.
Faktor-Faktor
yang Berperan Dalam Gangguan Sistem Syaraf
·
Faktor Traumatik
Apa
yang terpikir dalam benak kita ketika ayam yang dipelihara mengalami kelumpuhan?
Penyakit atau faktor nutrisi kah?, bagaimana dengan ayam yang lehernya
berputar? Penyakit tetello kah? Terkadang kita tidak perlu berpikir terlalu
jauh karena terkadang jawabannya ada di depan mata kita.
1. Konstruksi
Kandang
Kita perlu memperhatikan apakah ada konstruksi
kandang yang tidak bersahabat dengan ayam.
Ayam yang dipeihara di slat bambu contohnya, mempunyai resiko untuk
terjepit diantara slat dibanding ayam yang dipelihara di slat plastik.
Perhatikan pula adanya benda tajam seperti paku atau kayu dan bambu yang
runcing dan dapat menimbulkan perlukaan pada ayam. Ayam yang terjepit otot dan
syaraf perifer (pinggir)nya dan ayam yang mempunyai luka terbuka akan menderita
kepincangan atau kelemahan otot. Ha ini pun berlaku pada kasus lain seperti
terinjak sepatu boot. Untuk ayam yang mempunyai sistem pakan otomatis dengan
menggunakan system trough dan grill, kepala dan leher yang terjepit
dapat menyebabkan gejala gangguan syaraf.
2. Kesalahan
tata cara vaksinasi
Vaksinasi terutama vaksinasi inject (suntik) terutama di bagian sub kutan (bawah kulit) pada
bagian leher mempunyai resiko untuk melukai dan mengenai syaraf, otot atau
tulang di sekitar leher. Jika ini terjadi kematian dapat seketika terjadi,
namun dapat pula “hanya” menyebabkan gejala kepala berputar (tortikolis).
·
Nutrisi yang buruk
Faktor
nutrisi merupakan kebutuhan dasar dalam mencapai performa produksi yang
optimal. Berbagai macam bahan dalam pakan akan saling mendukung untuk mencapai
hasil terbaik, karena itulah kebutuhan akan nutrisi pada ternak unggas harus
dipenuhi tidak hanya mengenai kelengkapan bahan-bahan yang terkandung dalam
pakan, tapi juga harus tepat dan seimbang. Salah satu komponen penting yang
dibutuhkan ayam dalam pakan adalah vitamin. Fungsi vitamin antara lain adalah untuk menjaga fungsi normal
tubuh sehingga tubuh bisa menunjukkan performa yang maksimal. Sebaliknya, kekurangan
vitamin dapat mengakibatkan penurunan performa ayam, seperti tidak tercapainya
berat badan ideal dan keseragaman yang baik, penurunan kualitas dan kuantitas
turun sampai tingginya angka sakit dan kematian. Biasanya pakan pabrikan sudah
mengandung vitamin dengan komposisi yang tepat.
Namun kita perlu memperhatikan bagaimana cara agar kualitas pakan
terjaga sehingga vitamin dalam pakan tidak berkurang. Penurunan jumlah vitamin
dalam pakan dipengaruhi oleh lamanya waktu penyimpanan, suhu dan kelembaban.
Rata-rata batas waktu penyimpanan yang baik adalah dua bulan.
Terdapat beragam vitamin yang diperlukan ayam, tapi berikut
dipaparkan dua vitamin penting yang berfungsi untuk menjaga kesehatan syaraf
dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan syaraf.
1. Vitamin
E dan Selenium
Vitamin E merupakan nutrisi untuk
sel-sel dalam tubuh, baik itu sel-sel pertahanan, maupun sel-sel yang berperan
dalam sistem syaraf. Kurangnya asupan vitamin E pada ayam dapat menyebabkan penyakit Encephalomalacia Nutrisi. Penyakit ini
menyebabkan gangguan syaraf seperti ketidakseimbangan, berjalan lunglai,
gerakan tak terkontrol sampai paralisis. Penyakit ini dapat diatasi dengan
program pakan dengan kandungan vitamin E dan atau selenium yang seimbang.

Gambar 1. Paresis
karena kekurangan vitamin E dan Selenium. Ayam terlihat tidak mampu berdiri,
bulu kusam dan kusut.
Kekurangan vitamin B2
Vitamin B2 (riboflavin)
mempunyai fungsi penting dalam sistem enzim tubuh dan berfungsi dalam
melindungi selaput otak. Ketika ayam kekurangan riboflavin, ayam akan tumbuh
lambat, lemah dan kurus walaupun nafsu makan
masih baik. Produksi telur akan menurun dan telur pun tidak menetas. Ayam
tidak dapat berjalan, dan bertumpu pada lutut dan sayap. Kelumpuhan kaki, sayap
menggantung dan posisi jari kaki yang ditekuk ke dalam kerapkali terjadi. Meski Riboflavin ditransmisikan secara
genetik lewat telur, tetapi riboflabin dalam pakan tetap dibutuhkan, terutama
untuk ayam indukan. Jika kekurangan
riboflavin telah terjadi, pemberian riboflavin yang tertakar diharapkan dapat
mengatasi penyakit ini selama gangguan syaraf belum berlangsung kronis.
Dua vitamin ini mempunyai fungsi vital dalam mencegah
gangguan syaraf pada ayam, akan tetapi asupan dua vitamin ini tidaklah cukup,
karena vitamin-vitamin ini membutuhkan rekanan untuk dapat bekerja optimal.
Vitamin E contohnya, diperlukan kerja
antioksidan, asam linoleic, sulfur asam amino dan selenium agar vitamin E dapat berperan optimum.
·
Agen Infeksi
Agen infeksi merupakan organisme
yang dapat menginfeksi dan menyebabkan kelainan atau abnormalitas dalam fungsi
tubuh. Agen infeksi antara lain berupa virus, bakteri, jamur dan parasit.
Berikut adalah agen infeksi yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf.
Agen Infeksi viral
Tetello (Newcastle disease)
Penyakit tetello atau biasa disingkat ND
merupakan penyakit yang disebabkan virus dan tersebar luas di dunia dan dengan
penyebaran yang cepat dan merupakan
momok bagi para peternak karena dampak yang dapat ditimbulkannya. Penyakit ini
dapat menyebabkan kematian hingga 100% , dan terbagi menjadi beberapa bentuk,
dari yang menunjukkan gejala klinis sampai dengan kejadian subklinis (ayam tidak
menunjukkan gejala apapun). Di samping
gangguan respirasi, diare, gangguan produksi, kebengkakan wajah, kepala dan
pial, ayam yang menderita penyakit ini kerapkali menunjukkan gangguan syaraf
yakni tortikolis yaitu kejang otot leher yang menyebabkan leher ayam berputar
sedemikian rupa.

Gambar
2. Tortikolis karena Newcastle Disease. Kepala ayam berputar sedemikian rupa
karena peradangan pada sistem syaraf pusat.
Penyakit Marek’s
Penyakit yang menyebabkan tumor pada
ayam ini dapet menyebabkan angka kematian tinggi, penurunan produksi telur, dan
dapat menekan sistem kekebalan tubuh ayam.
Jika penyakit ini menyebabkan tumor bagian dalam tubuh, ayam akan
terlihat depresi dan berakhir dengan kematian, sedangkan jika penyakit ini
menyerang syaraf pinggir (perifer), akan menyebabkan paralisis kaki dan sayap
serta dapat menyebabkan kebutaan.

Gambar
3. Paralisis karena penyakit Marek’s. Terlihat ayam mengalami kelumpuhan karena
syaraf perifer yang terinfeksi.
·
Agen Infeksi Bakterial
Penyakit Botulinum
Penyakit ini
disebakan oleh toksin bakteri Clostridium
botulinum tipe A/C dan bisa
ditularkan melalui pakan yang tercemar. Toksin dan spora bakteri dapat bertahan
pada lingkungan dalam jangka watu yang lama. Penyakit ini dapat menyebabkan
gejala paralitik yang akan berproses mengarah ke cranial (kepala), mulai dari
kelumpuhan dari kaki ke sayap (sayap menggantung ke bawah), leher sampai ke
kelopak mata sehingga ayam seringkali terdiam dengan mata tertutup.
·
Agen Infeksi Fungal
(Jamur)
Aspergillosis
Penyakit
yang disebabkan Aspergillus fumigates dan
Aspergillus flavus ini menyebar melalui spora yang tersebar
melalui pakan dan litter. Walaupun
jarang karena seringkali menyebabkan gejala pernafasan, namun bentuk syaraf
dapat terjadi dan menyebabkan ataxia dan kelumpuhan.
Di luar itu
semua, sangat penting untuk menjaga agar ayam berada dalam kondisi yang optimal
karena pada prinsipnya setiap penyakit menyebabkan penurunan nafsu makan yang
mengaibatkan intake pakan berkurang
sehingga nutrisi yang dibutuhkan tidak tersuplai.
·
Penyebab lain
Racun Karbon Monoksida
Konstruksi
kandang yang salah dapat menyebabkan ventiasi tidak maksimal dan bisa mengakibatkan ayam menghirup
karbon monoksida berlebihan. Gejala yang
dapat ditimbulkan antara lain kekerdilan dan gangguan system syaraf.
Tindakan
Pencegahan dan Penanggulangan
Ketika kita
melihat ayam yang menunjukkan gejala syaraf, mulai dari leher atau kepala yang
berputar, gemetaran, sayap menggantung, atau kelemahan dan kelumpuhan kaki, hal
yang dapat kita lakukan adalah segera memisahkan ayam tersebut dari kawanannya
atau segera di culling. Selagi
mencari penyebabnya, dapat dilakukan pengamatan, berapa banyak presentase ayam
yang mengalami gangguan syaraf, dan jika bertambah amati laju peningkatan dari hari ke hari. Hal yang dapat kita lakukan untuk
mengidentifikasinya adalah:
1) Dengan
dibantu dokter hewan atau petugas lapangan, ayam yang mengalami gangguan syaraf
dapat dibedah dan dilihat kemungkinan adanya abnormalitas pada organ-organ.
Jika jumahnya banyak dan mengkhawatirkan, jika memungkinkan dapat diambil
sampel darah atau organ untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk
peneguhan diagnosis
2) Amati
apakah manajemen yang baik telah dijalankan, perhatikan apakah ada kemungkinan kecederaan
pasca vaksinasi subkutan di area leher atau tidak
3) Perhatikan
area dimana ayam yang mengalami gangguan syaraf. Apakah hanya di satu kandang,
atau bahkan hanya dalam satu pen/brooder. Jika iya, amati apakah ayam dalam pen
tersebut mendapatkan cukup nutrisi dari makanan. Perhatikan kemudahan akses
untuk makan dan minum, mulai dari jumlah tempat pakan dan minum, sampai kepada
program pencahayaan untuk kemudahaan ayam dalam melihat pakan.
4) Perhatikan
adanya konstruksi kandang yang tidak bersahabat pada ayam sehingga menyebabkan
luka traumatik
5) Perhatikan
ventilasi kandang. Kandang yang lembab dapat memicu tumbuhnya jamur dan
memudahkan agen infeksi lain seperti virus dan bakteri dapat masuk.
6) Perhatikan
tempat penyimpanan pakan ayam. Pakan sebaiknya tidak bersentuhan langsung
dengan lantai, dan disimpan di tempat yang kering dan terlindung dari sinar
matahari. Pakan pun harus terdistribusikan dalam waktu maksimal dua bulan.
Jika penyebabnya
ternyata adalah agen infeksi, segera lakukan tindakan dengan memperhatikan
aspek ekonomi, apakah akan dilakukan treatment pengobatan atau culling. Jika manjemen, atau kontruksi
kandang yang berperan, segera lakukan pembenahan pada aspek-aspek yang
dicurigai. Kuncinya adalah makin cepat kita dapat mengenali tanda-tanda
gangguan syaraf, makin cepat pula penanganan dapat diberikan. Selain itu, pada prinsipnya,
gangguan syaraf, kondisi abnormal atau penyakit lain pada ayam dapat kita cegah
atau minimalisir resikonya dengan penerapan manajemen dan biosekuriti yang
baik. Berikut bebrapa poin penting yang dapat diperhatikan:
1) Terapkan
sanitasi, desinfeksi dan biosekuriti yang ketat. Mulai dari adanya pagar
pembatas, jarak dan pemisah antara ingkungan luar, ingkungan kantor dan area
kandang. Shower untuk sanitasi diri
sebelum masuk dan keluar area kandang sampai celup kaki dan semprot kandang
sebelum masuk kandang. Desinfeksi lingkungan secara rutin pun harus dilakukan
untuk meminimalisir timbulnya penyakit
2) Pastikan
ayam tidak terlalu padat dengan menghitung jumlah area minimal yang dibutuhkan
disesuaikan dengan pertambahan berat badam
3) Vektor
penyakit seperti kumbang hitam (darkling
beatles), nyamuk, hewan pengerat serta burung liar harus ditiadakan dan
diminimalisir. Ha ini berkaitan dengan konstruksi dan modifikasi kandang yang
dibuat untuk mencegah masuknya hewan-hewan tersebut, seperti adanya kawat-kawat
pembatas dan perangkap tikus. Selain itu herbisida dapat digunaan untuk mencegah
lebatnya tanaman yang tumbuh di sekitar kandang agar tidak ada tempat
bersembunyi yang nyaman bagi hewan-hewan tersebut
4) Pakan
yang baik dengan nutrisi yang tepat dan berimbang dapat diberikan. Selain itu
tempat penyimpanan dan pendistribusian pakan harus diperhatikan. Konsep first in first out dapat diterapkan
5) Selebihnya
manajeman litter, minum, ventiasi dan
hal standar lainnya harus diterapkan dengan maksimal.
Bacaan
lebih lanjut:
Saif, Y. M., et al., 2008. Diseases of Poultry twelfth edition. Iowa: Backwell Publishing
Zavala, Louise et al., 2008. Isolation, Identification and
characterization of Avian Pathogens fifth edition. Georgia: American Association of Avian Pathologists
No comments:
Post a Comment