Saturday, 31 May 2014

MENGENAL BERBAGAI JENIS GANGGUAN SYARAF PADA AYAM



Arti Penting Mengenal Gangguan Syaraf
Peternakan ayam saat ini mengalami perkembangan yang pesat di Indonesia selama kurun waktu satu dekade ini. Terbukti dari data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan tren peningkatan populasi ayam, baik itu jenis ayam petelur maupun pedaging. Pesatnya perkembangan ini tidak lepas dari peran serta para peneliti dan pengembang para pelaku industri ini, dari mulai cara-cara tradisional yang bagi sebagian kalangan merasa perlu “dilestarikan” karena kepercayaan pada cita-rasa daging ayam yang harus kembali pada selera asli yang tetap terjaga, hingga dikembangkan pada jenis peternakan ultra-modern yang mampu menghasilkan produksi unggas dengan trend kemampuan produksi yang berbanding positif dengan laju pertumbuhan penduduk. Setelah melalui serangkaian perkembangan tata-cara beternak, didapat sebuah cetak biru manajemen pemeliharaan ayam yang kompleks dan intensif, dengan konsekuensi akhir yang ingin didapat adalah idealitas dalam memperoleh efisiensi produksi dengan kemampuan produksi yang maksimal.
Beternak ayam memang gampang-gampang sulit. Tidak hanya pengetahuan tentang manajemen dan kesehatan hewan yang dibutuhkan, akan tetapi harus dibarengi pula dengan ketelatenan dan kepekaan dalam melihat kondisi ayam. Biasanya peternak sudah mempunyai standar manajemen pemeliharaan ayam, mulai dari sanitasi dan desinfeksi pra chick-in¸program pakan dan minum, litter, pencahayaan, manjemen ventilasi yang memperhatikan aspek suhu, kecepatan angin dan kelembaban, serta program vaksin dan kegiatan insidental lain.
Pendedahan mengenai manajemen pemeliharaan tidak akan dilakukan di sini, namun lebih kepada berbagai macam peristiwa keanehan yang seringkali menyertai dalam pemeliharaan unggas modern. Salah satu yang sering dijumpai adalah adanya kondisi ayam yang abnormal, salah satunya adalah paralisis, yaitu kehilangan fungsi otot pada salah satu bagian tubuh atau singkatnya disebut dengan kelumpuhan dan paresis yaitu paralisis yang bersifat ringan atau sebagian, yaitu ketika ayam kelihatan lemah dan malas untuk berjalan. Istilah yang sering di cetuskan masyarakat peternak unggas adalah bahwa ayamnya mengalami ‘pengkor’, yang sebenarnya kondisi pengkor/kelumpuhan pada kaki baik dialami di kedua kaki (bilateral) atau hanya terjadi pada salah satu kaki (unilateral) hanyalah salah satu dari akibat dari gangguan sistem syaraf.
            Kondisi gangguan syaraf terjadi ketika otak, spinal cord atau suatu bagian syaraf terganggu. Kondisi ini dapat menyerang ayam pada berbagai umur. Tanda-tanda yang terjadi yaitu kelemahan syaraf yang menyebabkan ayam sulit berdiri dan berjalan sampai kelumpuhan kaki total, leher terpelintir atau berputar ke sisi lain, kepala mendongak ke atas sehingga ayam terlihat hilang arah, sampai gejala lain seperti gemetar atau menggigil.
Dapat dibayangkan apa yang terjadi jika ayam yang dipelihara mengalami gangguan-gangguan seperti tersebut diatas. Dimulai dari ayam akan mengalami penurunan konsumsi pakan karena kesulitan menjangkau tempat pakan yang dapat menyebabkan penurunan performa produksi. Hal ini tentu saja akan diperparah dengan kemungkinan terjadinya penurunan daya tahan tubuh ayam, sehingga meski diberikan vaksinasi atau rangkaian tindak pencegahan penyakit, secara alami ayam tidak mampu memproteksi dirinya sendiri, kemudian diikuti dengan masuknya agen penyakit yang memiliki nilai ekonomis, hasil akhirnya dapat diprediksi : terjadi outbreak dalam kandang. Masuk akal bukan? Itulah mengapa kita harus mengenali abnormalitas ini.
Faktor-Faktor yang Berperan Dalam Gangguan Sistem Syaraf
·         Faktor Traumatik
Apa yang terpikir dalam benak kita ketika ayam yang dipelihara mengalami kelumpuhan? Penyakit atau faktor nutrisi kah?, bagaimana dengan ayam yang lehernya berputar? Penyakit tetello kah? Terkadang kita tidak perlu berpikir terlalu jauh karena terkadang jawabannya ada di depan mata kita.

1.      Konstruksi Kandang
Kita perlu memperhatikan apakah ada konstruksi kandang yang tidak bersahabat dengan ayam.  Ayam yang dipeihara di slat bambu contohnya, mempunyai resiko untuk terjepit diantara slat dibanding ayam yang dipelihara di slat plastik. Perhatikan pula adanya benda tajam seperti paku atau kayu dan bambu yang runcing dan dapat menimbulkan perlukaan pada ayam. Ayam yang terjepit otot dan syaraf perifer (pinggir)nya dan ayam yang mempunyai luka terbuka akan menderita kepincangan atau kelemahan otot. Ha ini pun berlaku pada kasus lain seperti terinjak sepatu boot. Untuk ayam yang mempunyai sistem pakan otomatis dengan menggunakan system trough dan grill, kepala dan leher yang terjepit dapat menyebabkan gejala gangguan syaraf.

2.      Kesalahan tata cara vaksinasi
Vaksinasi terutama vaksinasi inject (suntik) terutama di bagian sub kutan (bawah kulit) pada bagian leher mempunyai resiko untuk melukai dan mengenai syaraf, otot atau tulang di sekitar leher. Jika ini terjadi kematian dapat seketika terjadi, namun dapat pula “hanya” menyebabkan gejala kepala berputar (tortikolis).

·         Nutrisi yang buruk
Faktor nutrisi merupakan kebutuhan dasar dalam mencapai performa produksi yang optimal. Berbagai macam bahan dalam pakan akan saling mendukung untuk mencapai hasil terbaik, karena itulah kebutuhan akan nutrisi pada ternak unggas harus dipenuhi tidak hanya mengenai kelengkapan bahan-bahan yang terkandung dalam pakan, tapi juga harus tepat dan seimbang. Salah satu komponen penting yang dibutuhkan ayam dalam pakan adalah vitamin. Fungsi vitamin  antara lain adalah untuk menjaga fungsi normal tubuh sehingga tubuh bisa menunjukkan performa yang maksimal. Sebaliknya, kekurangan vitamin dapat mengakibatkan penurunan performa ayam, seperti tidak tercapainya berat badan ideal dan keseragaman yang baik, penurunan kualitas dan kuantitas turun sampai tingginya angka sakit dan kematian. Biasanya pakan pabrikan sudah mengandung vitamin dengan komposisi yang tepat.  Namun kita perlu memperhatikan bagaimana cara agar kualitas pakan terjaga sehingga vitamin dalam pakan tidak berkurang. Penurunan jumlah vitamin dalam pakan dipengaruhi oleh lamanya waktu penyimpanan, suhu dan kelembaban. Rata-rata batas waktu penyimpanan yang baik adalah dua bulan.
      Terdapat beragam vitamin yang diperlukan ayam, tapi berikut dipaparkan dua vitamin penting yang berfungsi untuk menjaga kesehatan syaraf dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan syaraf.

1.      Vitamin E dan Selenium
Vitamin E merupakan nutrisi untuk sel-sel dalam tubuh, baik itu sel-sel pertahanan, maupun sel-sel yang berperan dalam sistem syaraf. Kurangnya asupan vitamin E pada  ayam dapat menyebabkan penyakit Encephalomalacia Nutrisi. Penyakit ini menyebabkan gangguan syaraf seperti ketidakseimbangan, berjalan lunglai, gerakan tak terkontrol sampai paralisis. Penyakit ini dapat diatasi dengan program pakan dengan kandungan vitamin E dan atau selenium yang seimbang.
Preview Image Preview Image
Gambar 1. Paresis karena kekurangan vitamin E dan Selenium. Ayam terlihat tidak mampu berdiri, bulu kusam dan kusut.

Kekurangan vitamin B2
Vitamin B2 (riboflavin) mempunyai fungsi penting dalam sistem enzim tubuh dan berfungsi dalam melindungi selaput otak. Ketika ayam kekurangan riboflavin, ayam akan tumbuh lambat, lemah dan kurus walaupun nafsu makan  masih baik. Produksi telur akan menurun dan telur pun tidak menetas. Ayam tidak dapat berjalan, dan bertumpu pada lutut dan sayap. Kelumpuhan kaki, sayap menggantung dan posisi jari kaki yang ditekuk ke dalam kerapkali terjadi.  Meski Riboflavin ditransmisikan secara genetik lewat telur, tetapi riboflabin dalam pakan tetap dibutuhkan, terutama untuk ayam indukan.  Jika kekurangan riboflavin telah terjadi, pemberian riboflavin yang tertakar diharapkan dapat mengatasi penyakit ini selama gangguan syaraf belum berlangsung kronis.
            Dua vitamin ini mempunyai fungsi vital dalam mencegah gangguan syaraf pada ayam, akan tetapi asupan dua vitamin ini tidaklah cukup, karena vitamin-vitamin ini membutuhkan rekanan untuk dapat bekerja optimal. Vitamin E contohnya, diperlukan kerja antioksidan, asam linoleic, sulfur asam amino dan selenium  agar vitamin E dapat berperan optimum.
·         Agen Infeksi
Agen infeksi merupakan organisme yang dapat menginfeksi dan menyebabkan kelainan atau abnormalitas dalam fungsi tubuh. Agen infeksi antara lain berupa virus, bakteri, jamur dan parasit. Berikut adalah agen infeksi yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf.
Agen Infeksi viral
Tetello (Newcastle disease)
        Penyakit tetello atau biasa disingkat ND merupakan penyakit yang disebabkan virus dan tersebar luas di dunia dan dengan penyebaran yang cepat dan  merupakan momok bagi para peternak karena dampak yang dapat ditimbulkannya. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian hingga 100% , dan terbagi menjadi beberapa bentuk, dari yang menunjukkan gejala klinis sampai dengan kejadian subklinis (ayam tidak menunjukkan gejala apapun).  Di samping gangguan respirasi, diare, gangguan produksi, kebengkakan wajah, kepala dan pial, ayam yang menderita penyakit ini kerapkali menunjukkan gangguan syaraf yakni tortikolis yaitu kejang otot leher yang menyebabkan leher ayam berputar sedemikian rupa.
Preview Image
Gambar 2. Tortikolis karena Newcastle Disease. Kepala ayam berputar sedemikian rupa karena peradangan pada sistem syaraf pusat.

Penyakit Marek’s
        Penyakit yang menyebabkan tumor pada ayam ini dapet menyebabkan angka kematian tinggi, penurunan produksi telur, dan dapat menekan sistem kekebalan tubuh ayam.  Jika penyakit ini menyebabkan tumor bagian dalam tubuh, ayam akan terlihat depresi dan berakhir dengan kematian, sedangkan jika penyakit ini menyerang syaraf pinggir (perifer), akan menyebabkan paralisis kaki dan sayap serta dapat  menyebabkan kebutaan.
Preview Image
Gambar 3. Paralisis karena penyakit Marek’s. Terlihat ayam mengalami kelumpuhan karena syaraf perifer yang terinfeksi.

·         Agen Infeksi Bakterial
Penyakit Botulinum
Penyakit ini disebakan oleh toksin bakteri Clostridium botulinum  tipe A/C dan bisa ditularkan melalui pakan yang tercemar. Toksin dan spora bakteri dapat bertahan pada lingkungan dalam jangka watu yang lama. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala paralitik yang akan berproses mengarah ke cranial (kepala), mulai dari kelumpuhan dari kaki ke sayap (sayap menggantung ke bawah), leher sampai ke kelopak mata sehingga ayam seringkali terdiam dengan mata tertutup.
·         Agen Infeksi Fungal (Jamur)
Aspergillosis
            Penyakit yang disebabkan Aspergillus fumigates dan Aspergillus flavus  ini menyebar melalui spora yang tersebar melalui pakan dan litter. Walaupun jarang karena seringkali menyebabkan gejala pernafasan, namun bentuk syaraf dapat terjadi dan menyebabkan ataxia dan kelumpuhan.
Di luar itu semua, sangat penting untuk menjaga agar ayam berada dalam kondisi yang optimal karena pada prinsipnya setiap penyakit menyebabkan penurunan nafsu makan yang mengaibatkan intake pakan berkurang sehingga nutrisi yang dibutuhkan tidak tersuplai.
·         Penyebab lain
Racun Karbon Monoksida
Konstruksi kandang yang salah dapat menyebabkan ventiasi tidak maksimal  dan bisa mengakibatkan ayam menghirup karbon  monoksida berlebihan. Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain kekerdilan dan gangguan system syaraf.
Tindakan Pencegahan dan Penanggulangan
Ketika kita melihat ayam yang menunjukkan gejala syaraf, mulai dari leher atau kepala yang berputar, gemetaran, sayap menggantung, atau kelemahan dan kelumpuhan kaki, hal yang dapat kita lakukan adalah segera memisahkan ayam tersebut dari kawanannya atau segera di culling. Selagi mencari penyebabnya, dapat dilakukan pengamatan, berapa banyak presentase ayam yang mengalami gangguan syaraf, dan jika bertambah amati  laju peningkatan dari hari ke hari.  Hal yang dapat kita lakukan untuk mengidentifikasinya adalah:
1)      Dengan dibantu dokter hewan atau petugas lapangan, ayam yang mengalami gangguan syaraf dapat dibedah dan dilihat kemungkinan adanya abnormalitas pada organ-organ. Jika jumahnya banyak dan mengkhawatirkan, jika memungkinkan dapat diambil sampel darah atau organ untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk peneguhan diagnosis
2)      Amati apakah manajemen yang baik telah dijalankan, perhatikan apakah ada kemungkinan kecederaan pasca vaksinasi subkutan di area leher atau tidak
3)      Perhatikan area dimana ayam yang mengalami gangguan syaraf. Apakah hanya di satu kandang, atau bahkan hanya dalam satu pen/brooder. Jika iya, amati apakah ayam dalam pen tersebut mendapatkan cukup nutrisi dari makanan. Perhatikan kemudahan akses untuk makan dan minum, mulai dari jumlah tempat pakan dan minum, sampai kepada program pencahayaan untuk kemudahaan ayam dalam melihat pakan.
4)      Perhatikan adanya konstruksi kandang yang tidak bersahabat pada ayam sehingga menyebabkan luka traumatik
5)      Perhatikan ventilasi kandang. Kandang yang lembab dapat memicu tumbuhnya jamur dan memudahkan agen infeksi lain seperti virus dan bakteri dapat masuk.
6)      Perhatikan tempat penyimpanan pakan ayam. Pakan sebaiknya tidak bersentuhan langsung dengan lantai, dan disimpan di tempat yang kering dan terlindung dari sinar matahari. Pakan pun harus terdistribusikan dalam waktu maksimal dua bulan.
Jika penyebabnya ternyata adalah agen infeksi, segera lakukan tindakan dengan memperhatikan aspek ekonomi,  apakah akan dilakukan treatment pengobatan atau culling. Jika manjemen, atau kontruksi kandang yang berperan, segera lakukan pembenahan pada aspek-aspek yang dicurigai. Kuncinya adalah makin cepat kita dapat mengenali tanda-tanda gangguan syaraf, makin cepat pula penanganan dapat diberikan. Selain itu, pada prinsipnya, gangguan syaraf, kondisi abnormal atau penyakit lain pada ayam dapat kita cegah atau minimalisir resikonya dengan penerapan manajemen dan biosekuriti yang baik. Berikut bebrapa poin penting yang dapat diperhatikan:
1)      Terapkan sanitasi, desinfeksi dan biosekuriti yang ketat. Mulai dari adanya pagar pembatas, jarak dan pemisah antara ingkungan luar, ingkungan kantor dan area kandang. Shower untuk sanitasi diri sebelum masuk dan keluar area kandang sampai celup kaki dan semprot kandang sebelum masuk kandang. Desinfeksi lingkungan secara rutin pun harus dilakukan untuk meminimalisir timbulnya penyakit
2)      Pastikan ayam tidak terlalu padat dengan menghitung jumlah area minimal yang dibutuhkan disesuaikan dengan pertambahan berat badam
3)      Vektor penyakit seperti kumbang hitam (darkling beatles), nyamuk, hewan pengerat serta burung liar harus ditiadakan dan diminimalisir. Ha ini berkaitan dengan konstruksi dan modifikasi kandang yang dibuat untuk mencegah masuknya hewan-hewan tersebut, seperti adanya kawat-kawat pembatas dan perangkap tikus. Selain itu herbisida dapat digunaan untuk mencegah lebatnya tanaman yang tumbuh di sekitar kandang agar tidak ada tempat bersembunyi yang nyaman bagi hewan-hewan tersebut
4)      Pakan yang baik dengan nutrisi yang tepat dan berimbang dapat diberikan. Selain itu tempat penyimpanan dan pendistribusian pakan harus diperhatikan. Konsep first in first out dapat diterapkan
5)      Selebihnya manajeman litter, minum, ventiasi dan hal standar lainnya harus diterapkan dengan maksimal.

Bacaan lebih lanjut:
Saif, Y. M., et al., 2008. Diseases of Poultry twelfth edition. Iowa: Backwell Publishing
Zavala, Louise et al., 2008. Isolation, Identification and characterization of Avian Pathogens fifth edition. Georgia:  American Association of Avian Pathologists

No comments:

Post a Comment