Saturday, 31 May 2014

Resistensi Antibiotik: Berbahaya dan Perlu (Dicari) Solusinya*

Oleh : Diptya Cinantya
Suatu peternakan selayaknya memperhatikan dua aspek manajemen yang penting, yaitu manajemen pemeliharaan serta manajemen kesehatan. Manajemen pemeliharaan menyangkut segala aspek yang terkait dengan tata cara pembesaran atau budidaya, sedangkan manajemen kesehatan mencakup seluruh upaya agar didapatkan hewan yang sehat dan bebas dari segala penyakit. Terkait dengan manajemen kesehatan, disadari atau tidak, upaya pencegahan maupun penanggulangan penyakit dengan menggunakan berbagai macam jenis obat, terutama antibiotika, tenyata mempunyai berbagai efek samping yang tidak kita sadari, satu efek sampingnya adalah resistensi antibiotik. Momok menakutkan yang sudah menjadi perbincangan sejak lama ini juga dapat bersumber dari segi manajemen pemeliharaan yang tidak kita sadari mempunyai efek tidak langsung, yaitu penggunakan antibiotik pada pakan sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoter) dan imbuhan pakan (feed additive).
Sering Tak Disadari
                Peternak, yang biasanya mempunyai pengetahuan yang terbatas tentang kefarmasian dan aturan penggunaan obat biasanya manut dengan apa yang ditawarkan dan dianggap baik bagi mereka. Kasus pada peternakan dengan pola kemitraan contohnya, paket obat yang ditawarkan, antar lain antibiotik, akan langsung digunakan untuk gejala penyakit yang dianggap sesuai dengan suatu jenis antibiotik tersebut.  Anjuran dan pengawasan penggunaan obat, baik dari dokter hewan misalnya atau petugas lapangan terkadang tidak diterapkan baik karena pertimbangan feeling  atau sisi ekonomis. Indisipliner  ditunjukkan dengan penggunaan antibiotik yang terus-menerus selama hewan dirasa belum sembuh serta penghentian antibiotik ketika hewan sudah tidak menunjukkan gejala padahal masa pengobatan belum habis. Belum lagi, berbagai paradigma yang salah justru makin digemari karena efek semu menguntungkan, Penggunaan antibiotik murni, tanpa merek dagang yang digandrungi karena harganya yang lebih murah dan diklaim lebih manjur. Aturan hukum tentang kelegalan dan penggunaan obat keras pun dilangkahi contohnya dengan dosis yang dibuat hanya berdasarkan pengalaman dan menyalahi aturan pakai. Hal-hal tersebut merupakan berbagai tindakan yangdapat menyebabkan resitensi antibiotik.
                Resistensi antibiotik adalah kemampuan bakteri atau mikroba untuk bertahan terhadap efek dari suatu antibiotik. Hal ini mempunyai dampak yang mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta agar praktek pemberian antibiotik yang merangsang pertumbuhan pada pakan ternak dihentikan.1 Bahkan Uni Eropa telah melarang beberapa jenis antibiotik sebagai growth promoter pada pakan ternak.2 Penggunaan antibiotik dengan dosis rendah yang terus menerus dapat menyebabkan mikroba patogen (dapat menyebabkan penyakit) beradaptasi terhadap “serangan” antibiotik tersebut, di samping dikhawatirkan dapat membunuh mikroorganisme usus yang menguntungkan. Dampak pada sektor perdagangan pun terasa, seiring dengan dugaan bahwa keserampangan penggunaan antibiotik paling banyak terjadi pada peternakan babi dan ayam, upaya ekspor ternak kedua hewan tersebut selalu menemui kendala.
Berbagai macam terobosan
                Kajian, wacana dan upaya menyikapi masalah resistensi antibiotik yang memang telah lama terjadi sudah diterapkan dan digulirkan. Penggunaan probiotik sebagai bahan aditif pengganti antibiotik  telah direkomendasikan karena dapat meningkatkan kualitas pakan ternak di samping mengurangi efek residu antibiotik. Contoh lainnya yaitu pemanfaatan tepung cacing tanah sebagai suplemen pakan unggas sebagi pengganti antibiotik komersial. Terobosan terbaru untuk menghasilkan produk pangan asal hewan yang lebih sehat pun terlah dilakukan.  Wacana ayam herbal yang memperbarui wacana ayam organik telah mulai diperkenalkan, yaitu ayam ayam yang yang dibudidaya secara alami menggunakan pakan racikan khusus serta penggunaan suplementasi jamu ternak sebagi pengganti obat-obatan. Dengan begitu, diharapkan daging ayam yang dihasilkan mempunyai kualitas yang lebih baik. Ayam herbal diklaim memiliki daging yang lebih berkualitas, kadar lemak lebih rendah, serat daging lebih padat, aroma daging lebih segar, rasa yang lebih enak di samping tentunya memiliki residu antibiotik yang sangat sedikit. Ada lagi peptidobitik, yaitu senyawa peptida pengganti antibiotik sebagai feed additives yang berfungsi untuk mengendalikan mikrobamerugikan dalam saluran pencernaan ternak. Peptidobiotik mempunyai keunggulan yaitu tidak meninggalkan residu dalam tubuh ternak.
                Segala terobosan itu bukkannya tanpa halangan. Penggunaan probiotik atau tepung cacing tanah misalnya, ternyata tidak berimplikasi nyata selama pakan yang digunakan adalah pakan ayam komersial yang di dalamnya masih terkandung antibiotik. Ayam herbal pun, karena skala produksi yang masih kecil, harganya relatif lebih mahal dibandingkan ayam broiler biasa, selain diperlukan kajian lebih lanjut tentang ramuan jamu yang digunakan dengan memperhitungkan nilai ekonomis. Sedangkan wacana peptidobiotik memerlukan kajian lebih lanjut tentang sumber-sumber yang dapat digunakan sebagai penghasil senyawa peptida.
Penyikapan Masalah
Sebagai kalangan yang mengerti atau dianggap mengerti, yaitu profesi kesehatan, contohnya dokter hewan mempunyai tanggung jawab dalam menyikapi  permasalahan tersebut. Salah satunya adalah sosialisasi dan merubah paradigma masyarakat, khususnya para pelaku yang terkait dengan sektor peternakan. Pemahaman bahwa segalanya harus dimulai dengan manajemen kandang yang baik, yang salah satu pilar utamanya adalah biosekuriti perlu ditularkan. Lingkungan yang baik tentunya akan mencegah terjadinya penyakit serta menekan penggunaan obat yang sesungguhnya tidak diperlukan, di samping mendukung proses penyembuhan penyakit apabila terlanjur terjadi. Selanjutnya adalah peningkatan kompetensi kalangan profesi kesehatan. Pemahaman yang baik tentang penyakit, diagnosa dan pengobatan spesifik bagi penyakit pun mutlak diperlukan. Contohnya dokter hewan yang mempunyai kewajiban untuk  menegakkan diagnosa yang tepat sehingga dapat menghindari antibiotik broad spectrum (spektrum luas) yang akan ikut mematikan organisme bukan penyebab penyakit dan dapat menggunakan antibiotik  narrow spectrum yang lebih spesifik.  Memberikan payung hukum yang sesuai adalah langkah selanjutnya. Upaya pengawasan lalu lintas obat, walaupun sulit, dapat sedikit demi sedikit dibenahi, contohnya adalah pelarangan penjualan obat murni kepada pihak yang tidak berwenang. Meniru himbauan WHO dan mengikuti langkah Uni Eropa dan negara lain, larangan penggunaan beberapa jenis antibiotik dalam pakan ternak dapat diikuti. Terakhir adalah riset dan penelitian, yang harus sejalan dengan upaya-upaya di atas. Penelitian tentang bahaya resistensi antibiotik perlu terus dilakukan dengan diikuti riset mengenai terobosan-terobosan yang dapat menggantikan atau setidaknya mengurangi penggunaan antibiotik contohnya kajian tentang khasiat berbagai macam obat tradisional serta ramuannya, diikuti upaya pematenan sehingga dapat diterapkan pada ternak skala besar.

                  
1       European Commission, 1998. Commission Regulation of Amending Council Directive 70/524/DEC Concerning Additives in Feedingstuffs as Regards Withdrawal of Authorization of Certain Antibiotics. No. VI/7767//98, Brussels, Belgium
2       World Health Organization, 2000. WHO Global Principles d\for the Containment of Antimicrobial Resistance in Animals Intended for Food. Pages 1-23 in document WHO/CDS/CSR/APH/2000.4  WHO, Geneva


 *artikel ini ditulis dalam rangka lomba penulisan artikel ilmiah populer yg diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia tingkat nasional tahun 2012 dan menduduki peringkat ke-2.

Kejadian Ascites pada Ayam Broiler



Oleh: Diptya Cinantya

Selama masa pemeliharaan ayam pedaging (broiler), terkadang kita menjumpai ayam dengan perut yang menggembung yang ketika diraba terasa keras terisi cairan dan ketika dibuka, rongga perut terisi cairan bening kekuningan. Itulah yang disebut ascites, penimbunan cairan dalam rongga perut. Jika kita amati dengan seksama, ayam yang mengalami ascites dapat kita kenali diantara sekian banyak ayam yang dipelihara. Ayam tersebut akan cenderung untuk berdiri dengan posisi seperti kedinginan atau nyekukruk, dan bulu kusut dan berdiri terutama di sekitar leher. Ayam cenderung untuk lebih sering berdiri karena jika duduk atau berbaring, cairan di dalam perut (abdomen) akan mendesak ke arah jantung. Ini pula yang menjelaskan kenapa ayam yang mengalami ascites dapat mati seketika ketika tubuhnya dibalikkan terutama dengan posisi kepala lebih rendah dari badan, karena cairan dalam abdomen akan mengali dan mendesak jantung atau paru-paru. Ketika dibalik, perut ayam terlihat kembung dan ketika diraba terisi cairan, lambung (ventrikulus) ayam yang sering kita sebut empedal (jeroan) juga tidak teraba dari luar perut karena cairan yang memenuhi rongga perut. Berkaitan dengan gagalnya fungsi jantung untuk mendaptkan oksigen, ayam pun  terlihat megap-megap sesekali dan berusaha mencari oksigen. Ayam cenderung untuk terpisah dari kerumunannya dan mencari lokasi di pinggir sekatan. Ayam pun seringkali memejamkan mata dan tampat merasakan sesuatu dalam tubuhnya.
Ascites terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan okseigen yang diminta oleh tubuh. Jantung yang berdenyut lebih cepat untuk merespon panggilan itu menyebabnya meningkatnya aliran darah ke paru-paru dan jaringan tubuh. Ketika paru-paru ayam sudah tidak dapat menahan derasnya aliran darah dari jantung, aliran darah dengan tekanan yang tinggi tersebut akan kembali ke jantung, hati dan rongga perut. Hal ini yang menyebabkan terjadinya kerusakan jantung terutama bagian ventrikel kanan.  Pembuluh darah, baik yang menyuplai hati dan berada di usus pun membesar, mengakibatkan membesarnya hati dan, lebih jauhnya cairan dalam jaringan akan “merembes” keluar ke rongga perut.

Ascites - Showing distended abdomen filled with fluid.
Ascites - Perbesaran abdomen karena terisi cairan

Kejadian ascites yang tinggi dapat kita amati pada ayam broiler. Mengapa? Karena permintaan oksigen yang tinggi merujuk pada metabolisme yang tinggi pada ayam broiler. Metabolisme tinggi terjadi karena ayam broiler “dipaksa” untuk tumbuh cepat.  Hal ini berkaitan dengan prinsip bahwa darah bertugas untuk membawa oksigen dan sari-sari makanan yang  tentunya lebih tinggi jumahnya seiring dengan asupan pakan broiler yang juga tinggi. Di sisi yang lain, oksigen tersebut juga berfungsi menjaga suhu optimum dan fungsi tubuh.
Dalam kondisi yang normal, segala konsekuensi yang harus terjadi pada ayam broiler tentunya dapat diatasi oleh tubuh. Akan tetapi hal ini tentunya berbeda jika banyak hal mengintervensi mekanisme tubuh tersebut. Hal itu antara lain ventilasi yang buruk, yang meliputi kelembaban, suhu dan kandungan karbondioksida serta amonia tinggi yang tidak dibarengi dengan kecepatan aliran udara yang mumpuni. Selain itu kualitas DOC, penyakit yang mengganggu saluran pernafasan pun dapat memperparah kejadian ascites.
Ascites dapat dengan mudah terjadi pada peternakan ayam broiler, tapi tentu kita bisa meminimalisir faktor-faktor yang mempertinggi kejadian. Pertama, kita harus memanjakan kerja jantung ayam dan tidak membiarkannya untuk bekerja lebih keras. Karbondioksida dan ammonia yang tinggi tentu akan memberatkan kerja jantung karena selain menyuplai oksigen, jantung masih harus bekerja ekstra untuk mengeluarkan karbondioksida dan ammonia tersebut. Membuat ventilasi yang baik dengan mengatur arus angin optimum yang harus masuk dan keluar merupakan salah satu solusi. Selain itu kita juga harus memperhatikan kelembaban litter karena kelembaban litter tinggi juga berarti ammonia yang tinggi. Selain itu litter yang kering dan didisinfeksi terlebih dahulu akan sangat baik digunakan. Kedua, kita harus membuat ayam nyaman dan meminimalisir stress. Ayam yang stress akan membuat metabolisme tubuh ayam menjadi lebih tinggi karena ia akan menggunakan energi dan nutrisi yang didapatnya untuk mengatasi stress tersebut. Hal ini tentunya akan memperparah kerja tubuh terutama ayam broiler yang memang sudah bermetabolisme tinggi. Perlakukan ayam secara hati-hati. Minimalkan banyak variasi seperti variasi program pencahayaan, disamping melakukan penggantian pakan dan tempatnya serta gallon air minum secara bertahap. Terakhir, jika diperlukan, kita dapat memberikan suplemen bagi tubuh ayam. Cairan elektroit sebagai pengganti tubuh yang dilengkapi vitamin, terutama vitamin C diharapkan dapat menurunkan tingkat stress pada ayam.

“Jangan Biarkan Ayam Kita Menjadi (Lebih) Stress”



            Peternak terkadang bingung dengan banyaknya ayam yang menjadi lumpuh, tidak mau makan dan lemas.  Seutas benang karung pakan yang tersangkut di kerongkongannya, cuaca panas atau kedinginan dapat menjadi sumber stress bagi ayam dan bila dibiarkan dapat “membunuh” ayam secara perlahan-lahan.
            Stress merupakan suatu penyimpangan dari kondisi normal tubuh. Ketika hewan mengalami stress, ia akan mendistribusikan kembali energi dan sumber protein dalam tubuh, sehingga dengan asupan pakan dan suplemen dengan kadar yang sama, tubuh akan mengalami kekurangan dan mengakibatkan gangguan metabolisme. Tahap awal stress melibatkan fungsi syaraf dan pengeluaran hormon yang bersifat sementara.  Sebut saja jika ayam menelan tali rafia ia akan berusaha untuk terus menggerakkan kerongkongan untuk memuntahkannya secara terus menerus. Tahap kedua adalah proses adaptasi yang melibatkan pengeluaran hormon besar-besaran secara terus menerus. Anggap saja ayam berusaha untuk “menerima” bahwa tali raffia itu tidak mungkin dimuntahkannya dan mencoba beradaptasi dengan keadaan tersebut. Tahap ketiga adalah kelemahan, hal ini terjadi ketika hal yang menyebabkan stress, kita sebut sebagai stressor tetap ada dan sistem tubuh termasuk hormon tidak dapat dan sanggup menerimanya sehingga tubuh lambat laun mengalami kelemahan. Pada tahap ini, ayam tersebut akan mengalami depresi karena rasa sakit akibat adanya peradangan di kerongkongannya, dan seiring dengan penurunan nafsu makan akhirnya tidak mau makan sama sekali, dengan segala keterbatasan dirinya, ayam tersebut seperti “menjemput” kematiannya.
            Stressor atau penyebab stress dapat dikelompokkan menjadi stressor yang dapat dihindari dan yang tidak dapat dihindari. Dapat dihindari jika stressor tersebut dapat kita minimalisir atau bahkan kita tiadakan. Kandang yang dihuni terlalu banyak ayam, ventilasi yang buruk, litter yang basah, toksin pada makanan, kekurangan nutrisi (malnutrisi), tingginya level ammonia, dehidrasi, dan manajemen yang buruk merupakan contoh stressor yang dapat kita hindari. Sedangkan cuaca yang ekstrem seperti perbedaan suhu yang ekstrem anatara siang hari dan malam hari merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Selain itu stress karena interaksi dengan manusia, vaksinasi, transportasi, pertumbuhan yang “dibuat” cepat, dan pemotongan paruh merupakan contoh lain stressor ini. Cuaca ekstrem terutama panas merupakan tantangan yang perlu diwaspadai mengingat ayam tidak mempunya kelenjar keringat untuk membuang panas dari tubuhnya. Seluruh stress ini, walaupun tidak dapat kita hindari, namun kita dapat mengurangi  kadar stress yang akan ditimbulkannya dengan beberapa hal.
            Hewan yang stress tidak dapat kita kenali secara langsung karena stress merupakan kondisi fisiologis dalam tubuh. Secara imiah, banyak studi yang meneliti tentang kondisi fisiologis tersebut dan menetapkan berbagai indikator stress secara fisiologis, namun kiita tentu tidak dapat melihatnya dari luar. Merujuk beberapa hal, secara kasaran dan praktis, hewan yang stress menunjukkan gejala seperti ketika ia sedang sakit, seperti lemah, kurangnya respon gerak, diare, naiknya suhu tubuh dan berkurangnya nafsu makan.
Usaha Penanggulangan Stress
Elektrolit merupakan ion penting dalam tubuh yang berguna untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh agar metabolisme dalam tubuh dapat berjalan optimal. Dalam suatu kondisi seperti panas, gerak yang berlebihan dan stress, cairan tubuh cenderung hilang lebih banyak sehingga ayam dehidrasi dan menyebabkan proses metabolisme tubuh menjadi terganggu. Hal ini menyebabkan ayam menjadi rentan terhadap penyakit. Suplemen yang berisi elektroit berfungsi untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang sehingga proses metabolisme dapat berjaan dengan tetap optimal. Cairan elektrolit kemasan yang juga berisi berbagai vitamin dan suplemen tentu akan ebih terasa manfaatnya dan dapat diberikan ketika sesuatu yang dapat menyebabkan stress terjadi.
            Vitamin C merupakan vitamin yang penting bagi tubuh, karena berfungsi sebagai antioksidan sehingga dapat menjaga daya tahan tubuh. Sebagai gambaran, di luar tubuh, terdapat banyak ion-ion jahat yang bernama radikal bebas yang akan menarik ion-ion baik daam tubuh sehingga tubuh akan mengalami rekasi peradangan. Antioksidan merupakan salah satu keunggulan vitamin C yang berfungsi sebagai penangkal itu semua.  Selain itu vitamin C juga mengurangi racun dalam hati sehingga dapat memperbaiki fungsi hati sebagai salah satu sumber metabolisme. Vitamin C dapat diberikan terutama ketika cuaca ekstrem untuk menjaga daya tahan tubuh.
            Terakhir, karena kondisi stress di sini merujuk pada pemeliharaan ayam yang dilakukan secara komersial dalam jumlah besar, maka dapat kita anggap dengan berbagai stressor yang ada tentu akan berdampak pada ayam secara keseluruhan. Oleh sebab itu, tentunya lingkungan pemeliharaan yang berkaitan dengan manajemen lagi-lagi perlu diperhatikan. Harus kita pastikan kapasitas kandang sesuai dengan jumlah ayam dan juga kandang yang bersih dengan ventilasi yang baik, karena alih-alih hanya akan membuat ayam menjadi lebih stress, seperti dipaparkan di atas, lingkungan yang buruk dapat menjadi penyebab stress itu sendiri.

MENGENAL BERBAGAI JENIS GANGGUAN SYARAF PADA AYAM



Arti Penting Mengenal Gangguan Syaraf
Peternakan ayam saat ini mengalami perkembangan yang pesat di Indonesia selama kurun waktu satu dekade ini. Terbukti dari data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan tren peningkatan populasi ayam, baik itu jenis ayam petelur maupun pedaging. Pesatnya perkembangan ini tidak lepas dari peran serta para peneliti dan pengembang para pelaku industri ini, dari mulai cara-cara tradisional yang bagi sebagian kalangan merasa perlu “dilestarikan” karena kepercayaan pada cita-rasa daging ayam yang harus kembali pada selera asli yang tetap terjaga, hingga dikembangkan pada jenis peternakan ultra-modern yang mampu menghasilkan produksi unggas dengan trend kemampuan produksi yang berbanding positif dengan laju pertumbuhan penduduk. Setelah melalui serangkaian perkembangan tata-cara beternak, didapat sebuah cetak biru manajemen pemeliharaan ayam yang kompleks dan intensif, dengan konsekuensi akhir yang ingin didapat adalah idealitas dalam memperoleh efisiensi produksi dengan kemampuan produksi yang maksimal.
Beternak ayam memang gampang-gampang sulit. Tidak hanya pengetahuan tentang manajemen dan kesehatan hewan yang dibutuhkan, akan tetapi harus dibarengi pula dengan ketelatenan dan kepekaan dalam melihat kondisi ayam. Biasanya peternak sudah mempunyai standar manajemen pemeliharaan ayam, mulai dari sanitasi dan desinfeksi pra chick-in¸program pakan dan minum, litter, pencahayaan, manjemen ventilasi yang memperhatikan aspek suhu, kecepatan angin dan kelembaban, serta program vaksin dan kegiatan insidental lain.
Pendedahan mengenai manajemen pemeliharaan tidak akan dilakukan di sini, namun lebih kepada berbagai macam peristiwa keanehan yang seringkali menyertai dalam pemeliharaan unggas modern. Salah satu yang sering dijumpai adalah adanya kondisi ayam yang abnormal, salah satunya adalah paralisis, yaitu kehilangan fungsi otot pada salah satu bagian tubuh atau singkatnya disebut dengan kelumpuhan dan paresis yaitu paralisis yang bersifat ringan atau sebagian, yaitu ketika ayam kelihatan lemah dan malas untuk berjalan. Istilah yang sering di cetuskan masyarakat peternak unggas adalah bahwa ayamnya mengalami ‘pengkor’, yang sebenarnya kondisi pengkor/kelumpuhan pada kaki baik dialami di kedua kaki (bilateral) atau hanya terjadi pada salah satu kaki (unilateral) hanyalah salah satu dari akibat dari gangguan sistem syaraf.
            Kondisi gangguan syaraf terjadi ketika otak, spinal cord atau suatu bagian syaraf terganggu. Kondisi ini dapat menyerang ayam pada berbagai umur. Tanda-tanda yang terjadi yaitu kelemahan syaraf yang menyebabkan ayam sulit berdiri dan berjalan sampai kelumpuhan kaki total, leher terpelintir atau berputar ke sisi lain, kepala mendongak ke atas sehingga ayam terlihat hilang arah, sampai gejala lain seperti gemetar atau menggigil.
Dapat dibayangkan apa yang terjadi jika ayam yang dipelihara mengalami gangguan-gangguan seperti tersebut diatas. Dimulai dari ayam akan mengalami penurunan konsumsi pakan karena kesulitan menjangkau tempat pakan yang dapat menyebabkan penurunan performa produksi. Hal ini tentu saja akan diperparah dengan kemungkinan terjadinya penurunan daya tahan tubuh ayam, sehingga meski diberikan vaksinasi atau rangkaian tindak pencegahan penyakit, secara alami ayam tidak mampu memproteksi dirinya sendiri, kemudian diikuti dengan masuknya agen penyakit yang memiliki nilai ekonomis, hasil akhirnya dapat diprediksi : terjadi outbreak dalam kandang. Masuk akal bukan? Itulah mengapa kita harus mengenali abnormalitas ini.
Faktor-Faktor yang Berperan Dalam Gangguan Sistem Syaraf
·         Faktor Traumatik
Apa yang terpikir dalam benak kita ketika ayam yang dipelihara mengalami kelumpuhan? Penyakit atau faktor nutrisi kah?, bagaimana dengan ayam yang lehernya berputar? Penyakit tetello kah? Terkadang kita tidak perlu berpikir terlalu jauh karena terkadang jawabannya ada di depan mata kita.

1.      Konstruksi Kandang
Kita perlu memperhatikan apakah ada konstruksi kandang yang tidak bersahabat dengan ayam.  Ayam yang dipeihara di slat bambu contohnya, mempunyai resiko untuk terjepit diantara slat dibanding ayam yang dipelihara di slat plastik. Perhatikan pula adanya benda tajam seperti paku atau kayu dan bambu yang runcing dan dapat menimbulkan perlukaan pada ayam. Ayam yang terjepit otot dan syaraf perifer (pinggir)nya dan ayam yang mempunyai luka terbuka akan menderita kepincangan atau kelemahan otot. Ha ini pun berlaku pada kasus lain seperti terinjak sepatu boot. Untuk ayam yang mempunyai sistem pakan otomatis dengan menggunakan system trough dan grill, kepala dan leher yang terjepit dapat menyebabkan gejala gangguan syaraf.

2.      Kesalahan tata cara vaksinasi
Vaksinasi terutama vaksinasi inject (suntik) terutama di bagian sub kutan (bawah kulit) pada bagian leher mempunyai resiko untuk melukai dan mengenai syaraf, otot atau tulang di sekitar leher. Jika ini terjadi kematian dapat seketika terjadi, namun dapat pula “hanya” menyebabkan gejala kepala berputar (tortikolis).

·         Nutrisi yang buruk
Faktor nutrisi merupakan kebutuhan dasar dalam mencapai performa produksi yang optimal. Berbagai macam bahan dalam pakan akan saling mendukung untuk mencapai hasil terbaik, karena itulah kebutuhan akan nutrisi pada ternak unggas harus dipenuhi tidak hanya mengenai kelengkapan bahan-bahan yang terkandung dalam pakan, tapi juga harus tepat dan seimbang. Salah satu komponen penting yang dibutuhkan ayam dalam pakan adalah vitamin. Fungsi vitamin  antara lain adalah untuk menjaga fungsi normal tubuh sehingga tubuh bisa menunjukkan performa yang maksimal. Sebaliknya, kekurangan vitamin dapat mengakibatkan penurunan performa ayam, seperti tidak tercapainya berat badan ideal dan keseragaman yang baik, penurunan kualitas dan kuantitas turun sampai tingginya angka sakit dan kematian. Biasanya pakan pabrikan sudah mengandung vitamin dengan komposisi yang tepat.  Namun kita perlu memperhatikan bagaimana cara agar kualitas pakan terjaga sehingga vitamin dalam pakan tidak berkurang. Penurunan jumlah vitamin dalam pakan dipengaruhi oleh lamanya waktu penyimpanan, suhu dan kelembaban. Rata-rata batas waktu penyimpanan yang baik adalah dua bulan.
      Terdapat beragam vitamin yang diperlukan ayam, tapi berikut dipaparkan dua vitamin penting yang berfungsi untuk menjaga kesehatan syaraf dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan syaraf.

1.      Vitamin E dan Selenium
Vitamin E merupakan nutrisi untuk sel-sel dalam tubuh, baik itu sel-sel pertahanan, maupun sel-sel yang berperan dalam sistem syaraf. Kurangnya asupan vitamin E pada  ayam dapat menyebabkan penyakit Encephalomalacia Nutrisi. Penyakit ini menyebabkan gangguan syaraf seperti ketidakseimbangan, berjalan lunglai, gerakan tak terkontrol sampai paralisis. Penyakit ini dapat diatasi dengan program pakan dengan kandungan vitamin E dan atau selenium yang seimbang.
Preview Image Preview Image
Gambar 1. Paresis karena kekurangan vitamin E dan Selenium. Ayam terlihat tidak mampu berdiri, bulu kusam dan kusut.

Kekurangan vitamin B2
Vitamin B2 (riboflavin) mempunyai fungsi penting dalam sistem enzim tubuh dan berfungsi dalam melindungi selaput otak. Ketika ayam kekurangan riboflavin, ayam akan tumbuh lambat, lemah dan kurus walaupun nafsu makan  masih baik. Produksi telur akan menurun dan telur pun tidak menetas. Ayam tidak dapat berjalan, dan bertumpu pada lutut dan sayap. Kelumpuhan kaki, sayap menggantung dan posisi jari kaki yang ditekuk ke dalam kerapkali terjadi.  Meski Riboflavin ditransmisikan secara genetik lewat telur, tetapi riboflabin dalam pakan tetap dibutuhkan, terutama untuk ayam indukan.  Jika kekurangan riboflavin telah terjadi, pemberian riboflavin yang tertakar diharapkan dapat mengatasi penyakit ini selama gangguan syaraf belum berlangsung kronis.
            Dua vitamin ini mempunyai fungsi vital dalam mencegah gangguan syaraf pada ayam, akan tetapi asupan dua vitamin ini tidaklah cukup, karena vitamin-vitamin ini membutuhkan rekanan untuk dapat bekerja optimal. Vitamin E contohnya, diperlukan kerja antioksidan, asam linoleic, sulfur asam amino dan selenium  agar vitamin E dapat berperan optimum.
·         Agen Infeksi
Agen infeksi merupakan organisme yang dapat menginfeksi dan menyebabkan kelainan atau abnormalitas dalam fungsi tubuh. Agen infeksi antara lain berupa virus, bakteri, jamur dan parasit. Berikut adalah agen infeksi yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf.
Agen Infeksi viral
Tetello (Newcastle disease)
        Penyakit tetello atau biasa disingkat ND merupakan penyakit yang disebabkan virus dan tersebar luas di dunia dan dengan penyebaran yang cepat dan  merupakan momok bagi para peternak karena dampak yang dapat ditimbulkannya. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian hingga 100% , dan terbagi menjadi beberapa bentuk, dari yang menunjukkan gejala klinis sampai dengan kejadian subklinis (ayam tidak menunjukkan gejala apapun).  Di samping gangguan respirasi, diare, gangguan produksi, kebengkakan wajah, kepala dan pial, ayam yang menderita penyakit ini kerapkali menunjukkan gangguan syaraf yakni tortikolis yaitu kejang otot leher yang menyebabkan leher ayam berputar sedemikian rupa.
Preview Image
Gambar 2. Tortikolis karena Newcastle Disease. Kepala ayam berputar sedemikian rupa karena peradangan pada sistem syaraf pusat.

Penyakit Marek’s
        Penyakit yang menyebabkan tumor pada ayam ini dapet menyebabkan angka kematian tinggi, penurunan produksi telur, dan dapat menekan sistem kekebalan tubuh ayam.  Jika penyakit ini menyebabkan tumor bagian dalam tubuh, ayam akan terlihat depresi dan berakhir dengan kematian, sedangkan jika penyakit ini menyerang syaraf pinggir (perifer), akan menyebabkan paralisis kaki dan sayap serta dapat  menyebabkan kebutaan.
Preview Image
Gambar 3. Paralisis karena penyakit Marek’s. Terlihat ayam mengalami kelumpuhan karena syaraf perifer yang terinfeksi.

·         Agen Infeksi Bakterial
Penyakit Botulinum
Penyakit ini disebakan oleh toksin bakteri Clostridium botulinum  tipe A/C dan bisa ditularkan melalui pakan yang tercemar. Toksin dan spora bakteri dapat bertahan pada lingkungan dalam jangka watu yang lama. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala paralitik yang akan berproses mengarah ke cranial (kepala), mulai dari kelumpuhan dari kaki ke sayap (sayap menggantung ke bawah), leher sampai ke kelopak mata sehingga ayam seringkali terdiam dengan mata tertutup.
·         Agen Infeksi Fungal (Jamur)
Aspergillosis
            Penyakit yang disebabkan Aspergillus fumigates dan Aspergillus flavus  ini menyebar melalui spora yang tersebar melalui pakan dan litter. Walaupun jarang karena seringkali menyebabkan gejala pernafasan, namun bentuk syaraf dapat terjadi dan menyebabkan ataxia dan kelumpuhan.
Di luar itu semua, sangat penting untuk menjaga agar ayam berada dalam kondisi yang optimal karena pada prinsipnya setiap penyakit menyebabkan penurunan nafsu makan yang mengaibatkan intake pakan berkurang sehingga nutrisi yang dibutuhkan tidak tersuplai.
·         Penyebab lain
Racun Karbon Monoksida
Konstruksi kandang yang salah dapat menyebabkan ventiasi tidak maksimal  dan bisa mengakibatkan ayam menghirup karbon  monoksida berlebihan. Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain kekerdilan dan gangguan system syaraf.
Tindakan Pencegahan dan Penanggulangan
Ketika kita melihat ayam yang menunjukkan gejala syaraf, mulai dari leher atau kepala yang berputar, gemetaran, sayap menggantung, atau kelemahan dan kelumpuhan kaki, hal yang dapat kita lakukan adalah segera memisahkan ayam tersebut dari kawanannya atau segera di culling. Selagi mencari penyebabnya, dapat dilakukan pengamatan, berapa banyak presentase ayam yang mengalami gangguan syaraf, dan jika bertambah amati  laju peningkatan dari hari ke hari.  Hal yang dapat kita lakukan untuk mengidentifikasinya adalah:
1)      Dengan dibantu dokter hewan atau petugas lapangan, ayam yang mengalami gangguan syaraf dapat dibedah dan dilihat kemungkinan adanya abnormalitas pada organ-organ. Jika jumahnya banyak dan mengkhawatirkan, jika memungkinkan dapat diambil sampel darah atau organ untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk peneguhan diagnosis
2)      Amati apakah manajemen yang baik telah dijalankan, perhatikan apakah ada kemungkinan kecederaan pasca vaksinasi subkutan di area leher atau tidak
3)      Perhatikan area dimana ayam yang mengalami gangguan syaraf. Apakah hanya di satu kandang, atau bahkan hanya dalam satu pen/brooder. Jika iya, amati apakah ayam dalam pen tersebut mendapatkan cukup nutrisi dari makanan. Perhatikan kemudahan akses untuk makan dan minum, mulai dari jumlah tempat pakan dan minum, sampai kepada program pencahayaan untuk kemudahaan ayam dalam melihat pakan.
4)      Perhatikan adanya konstruksi kandang yang tidak bersahabat pada ayam sehingga menyebabkan luka traumatik
5)      Perhatikan ventilasi kandang. Kandang yang lembab dapat memicu tumbuhnya jamur dan memudahkan agen infeksi lain seperti virus dan bakteri dapat masuk.
6)      Perhatikan tempat penyimpanan pakan ayam. Pakan sebaiknya tidak bersentuhan langsung dengan lantai, dan disimpan di tempat yang kering dan terlindung dari sinar matahari. Pakan pun harus terdistribusikan dalam waktu maksimal dua bulan.
Jika penyebabnya ternyata adalah agen infeksi, segera lakukan tindakan dengan memperhatikan aspek ekonomi,  apakah akan dilakukan treatment pengobatan atau culling. Jika manjemen, atau kontruksi kandang yang berperan, segera lakukan pembenahan pada aspek-aspek yang dicurigai. Kuncinya adalah makin cepat kita dapat mengenali tanda-tanda gangguan syaraf, makin cepat pula penanganan dapat diberikan. Selain itu, pada prinsipnya, gangguan syaraf, kondisi abnormal atau penyakit lain pada ayam dapat kita cegah atau minimalisir resikonya dengan penerapan manajemen dan biosekuriti yang baik. Berikut bebrapa poin penting yang dapat diperhatikan:
1)      Terapkan sanitasi, desinfeksi dan biosekuriti yang ketat. Mulai dari adanya pagar pembatas, jarak dan pemisah antara ingkungan luar, ingkungan kantor dan area kandang. Shower untuk sanitasi diri sebelum masuk dan keluar area kandang sampai celup kaki dan semprot kandang sebelum masuk kandang. Desinfeksi lingkungan secara rutin pun harus dilakukan untuk meminimalisir timbulnya penyakit
2)      Pastikan ayam tidak terlalu padat dengan menghitung jumlah area minimal yang dibutuhkan disesuaikan dengan pertambahan berat badam
3)      Vektor penyakit seperti kumbang hitam (darkling beatles), nyamuk, hewan pengerat serta burung liar harus ditiadakan dan diminimalisir. Ha ini berkaitan dengan konstruksi dan modifikasi kandang yang dibuat untuk mencegah masuknya hewan-hewan tersebut, seperti adanya kawat-kawat pembatas dan perangkap tikus. Selain itu herbisida dapat digunaan untuk mencegah lebatnya tanaman yang tumbuh di sekitar kandang agar tidak ada tempat bersembunyi yang nyaman bagi hewan-hewan tersebut
4)      Pakan yang baik dengan nutrisi yang tepat dan berimbang dapat diberikan. Selain itu tempat penyimpanan dan pendistribusian pakan harus diperhatikan. Konsep first in first out dapat diterapkan
5)      Selebihnya manajeman litter, minum, ventiasi dan hal standar lainnya harus diterapkan dengan maksimal.

Bacaan lebih lanjut:
Saif, Y. M., et al., 2008. Diseases of Poultry twelfth edition. Iowa: Backwell Publishing
Zavala, Louise et al., 2008. Isolation, Identification and characterization of Avian Pathogens fifth edition. Georgia:  American Association of Avian Pathologists