Saturday, 26 June 2021

Tren Penyakit Unggas secara Global: Perubahan yang tidak bisa dihindari

Dimuat di Vetnesia edisi Desember 2019

 

            Industri unggas merupakan yang tidak pernah berhenti untuk berkembang. Merujuk pada Statista 2019 dan WATT 2018, pada tahun 2017, terdapat 22,85 miliar ayam di dunia, meningkat hampir 60% dibandingkan dengan tahun 2000 dengan populasi 14.38 miliar ayam dengan produksi daging mencapai 123 juta ton pada tahun 2018 dan diprediksi meningkat menjadi 139 juta metrik ton pada tahun 2027. Hal ini belum mencakup produksi telur yang mencapai 74 juta metrik ton di tahun 2018. Dan sejalan dengan peningkatan populasi, penyakit unggas tetap menjadi tantangan utama terhadap industri. Sebagai gambaran, Biggs (1982) melaporkan total cost dari pengontrolan penyakit mencakup 20% dari nilai gross produksi (GVP) dan bisa mencapai tiga kali lipat yang berasal dari kerugian akibat kematian. Penulis mencoba merangkum tren penyakit unggas selama dua-dan lebih fokus ke satu- dekade terakhir untuk melihat bagaimana dinamika penyakit secara global terutama digolongkan berdasarkan dampak yang ditimbulkan.

Penyakit catastrophic

            Dengan tingginya angka kematian dan kecepatan penyebaran yang tinggi, penyakit Avian Influenza (AI), terutama bentuk high pathogenic, memang selalu menjadi primadona dalam penyakit yang paling banyak ditakuti. Dengan persistensi di unggas domestik selama 23 tahun, AI telah emnjaid penyakit endemis di banyak negara termasuk Asia Tenggara, Afrika Utara dan Barat, termasuk oubreak sporadic di benua Eropa. Ditambah lagi adanya concern kemungkinan mutasi genetic dari virus yang mengakibatkan perubahan dari komponen genetic yang menyebabkan strain unggas menjadi pathogen ke manusia. Data WHO menyebutkan bahwa kasus pada manusia akibat Avian Influenza A (H5N1) di seluruh dunia dari tahun 2003-2019 yaitu sebanyak 861 kasus dengan 455 kasus diantara meninggal dunia. Setelah melewati empat pandemic, saat ini identifikasi bahwa seluruh subtype virus Infuenza A terdapat pada babi dan bebek yang bermigrasi dan di dalam danau tempat mereka bersarang, menyebabkan seluruh 16 subtipe HA dan 9 NA sebagai kandidat potensial terhadap kemungkinan terjadinya pandemik di masa depan tidak dapat kita kesampingkan (Kida, 2019)

Selanjutnya adalah Newcastle disease velogenik, yang tidak hanya menjadi masalah serius di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit ini berrsifat endemik di 60% negara di seluruh dunia, dengan pengecualian di Amerika utara.  Newcastle disease pandemic ke 4 dipercaya terjadi pada akhir tahun 1980s yang banyak disebabkan genotype VII dan VIII mengakibatkan kerugian ekenomi pada banyak negara di Asia tenggara, eropa, afrika dan amerika. Saat ini, diketahui banyaknya ekspansi secara geografis dengan identifikasi dari subgenotipe VIIh dan VIIi, kita perlu mengansipasi panzootic kelima. Dalam tahun-tahun belakangan, oubreak ND berlanjut di berbagai bagian asia, afrika, eropa dan amerika utara. ND bersifat endemic di 60% negara di seluruh bagian dunia. Sejauh ini 42 negara telah melaporkan hampir 4000 outbreak ND sejak 2008 (Liu, 2019).

Yang tidak kalah terkenal dengan tingkat kematiannya yang tinggi adalah very virulent infectious bursal disease (IBD). Dari 36 negara yang tersebar ke dalam 5 benua, penggabungan klasifikasi oleh  valls (2019) dan Michael Jackwood (2017) menemukan bahwa 21 negara di 4 benua teridentifikasi adanya vvIBD. Sedangkan IBDV tipe klasik terdapat pada 26 negara yang tersebar di seluruh benua. Variant virus, sampai dengan februari 2019, terdentifikasi meluas ke 13 negara dalam 4 benua. IBD terakhir, dikarenakan dampaknya yang rendah tapi menimbulkan efek berkepanjangan, dapat digolongkan ke dalam tipe ke dua, erosive disease.

Erosive disease

Penggolongan selanjutnya adalah penyakit erosive yang banyak didominasi oleh penyakit pernafasan dan pencernaan, termasuk pula yang menyerang system imun (Shane, 2010). Selain itu, faktor immunosupresi yang dtimbulkan menyebabkan penurunan pada respon terhadap vaksinasi terutama pada ayam muda dan peningkatan resiko terhadap infeksi penyakit lainnya. Akan tetapi, kondisi immunosupresif ini seringkali tidak disadari dan menjadi penyebab penyakit yang silent, namun pada kenyatannya menyebabkan kehilangan ekonomi yang lebih tinggi karena dampaknya dalam jangka waktu lama dibandingkan dengan kematian “lansung” dalam waktu pendek .

Selain IBD, Infectious bronchitis tipe variant mulai banyak teridentifikasi di dseluruh dunia. Secara global, dari 38 negara dari 4 benua dalam periode 20009-2018, Dolz (2019) melaporkan bahwa secara global, genotype QX merupakan IB lapangan yang paling banyak terdeteksi di broiler, sedangakn 793B merupakan genotype yng plaing banyak terdetreksi di longlife birds (layer dan broiler breeder).

Selanjutnya adalah koksidiosis, yang menyebabkan kerugian sebesar tiga miliar euro per tahun, yang terdiri tidak hanya koksidiosis klinis, namun juga subklinis yang prevalensinya mencapai 20% di seluruh dunia. Urgensi pemeliharaan broiler tanpa antibiotik atau beberapa golongan koksidiostat, mengakibatkan vaksin antikoksi yang efektif perlu diterapkan, termasuk terobosan vaksin yang menggunakan adjuvant yang bersifat immunomodulator.

Emerging disease

Penyakit emerging disease merupakan penyakit yang menurut pengamatan penulis memiliki dinamika  yang sangat menarik.  Penggolongan penyakit ini bisa merupakan penyakit baru yang sebelum tidak pernah terjadi atau penyakit yang sudah dikenali sebelumnya namun penyebabnya belum secara jelas diketahui (Bagust,2013). Sedangkan menurut WHO, emerging disease dapat dikategorikan sebagai penyakit yang telah ditemukan sebelumnya namun terjadi peningkatan  baik dari segi inseidensi atau area geografis.

Beberapa  penyakit yang telah disebutkan sebelumnya, seperti IBD Variant (yang terdentifikasi pada ayam broiler di Kanada (Senei, 2019)) dan juga IB Variant termasuk ke dalam emerging disease di beberapa negara. Lalu ada Avian metapneumovirus yang banyak terjadi di layer komersil dan broiler breeder di Myanmar ( Aung, 2019) serta infeksi Mycoplasma Synoviae di layer komersial.

Yang juga ramai terdengar beberapa tahun belakangan adalah inclusion body hepatitis (IBH) yang menyebakan kerugian ekonomi  yang besar di US dan Kanada, (Dar, 2012),  dan bersifat endemic di India (Kumar, 2013) serta merupakan saalh satu penyakit yang memilki prevalensi paling tinggi pada broiler sebanyak 10.4% pada periode 2010-2014 (gawel, 2016). Di Indonesia sendiri, penyakit ini pernah ada hampir di semua daerah dan pernah didiagnosa secara histopatologi dari ayam ras petelur (Pudjiatmoko, 2018). Sedangkan dari kluster bacterial, Enterococcus cecorum merupakan salah satu emerging pathogen di unggas yang menyebabkan femoral head nekrosis dan spondylitis di broiler (Jung, 2014)

Penyakit Zoonosis

Selain Avian influenza, penyakit zoonosis banyak terdapat pada aspek kesehatan pangan. Campylobacter di manusia, merupakan penyebab diare-bakterial yang paling tinggi di negara berkembang dengan jumlah kejadian di Amerika sebanyak 850.000- sampai lebih dari 2 juta kasus di US dan lebih darin 70% kasus di seluruh dunia yang etrkait dengan konsumsi daging ayam daging unggas (dale, 2003), diikuti oleh Salmonella spp. di telur yang terkontaminasi, serta E.coli yang menyebabkan pencemaran air.

Seiring perkembangan teknologi, sinergi terus dihasilkan dalam banyak aspek utama termasuk manajemen, operkandangamn, nutrisi, dan formulasi pakan, serta penerapan pengetahuan gemetik di program breeding komersial dan diikuti dengan diagnose dan pengontrolan penyakit yang lebih baik, semua hal ini menyebakan penyakit unggas bukan hal ayng sulit untuk diprediksi (FAO, 2013). Seperti yang dilakukan Astill et. Al (2018) ayng menerapkan teknologi barui dan “big data:” dalam mendeteksi dan memporediksi Avian Influenza. Hal ini meliputi deteksi cepat dengan diagnostic berteknologi, pengumpulan data dengan model prediktif berbasis internet dan environmental data, yang bisa digunakan untuk system support yang bisa memprediksi kapan dan dimana penyakit ini akan muncul. Namun, bagaimanapun usaha yang dilakukan, dengan virus yang terus menerus bermutasi, kita harus menerima kenyataan bahwa strain virus yang baru dan problem penyakit akan terus berdatangan di masa depan.