Dimuat di Majalah Infovet edisi Desember 2019
Kita dapat mengamati insidensi dari emerging disease di hewan ternak dan manusia terus meningkat, hal
ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya kontak antara hewan liar, hewan
ternak dan manusia (Astill, 2018). Pun di Indonesia, beberapa penyakit yang
sudah ada sejak beberapa dekade yang lalu bisa tetap kita temui sekarang dengan
tingkat insidensi yang semakin meningkat, sedangkan beberapa penyakit tetap
menjadi endemik hingga saat ini. Pola berulang cenderung terjadi dan
persistensi dan tren penyakit yang paling banyak ditemui cenderung tidak
berubah dari tahun ke tahun.
Iklim
dan Globalisasi sebagai Faktor Utama Predisposisi
Indonesia
merupakan negara beriklim tropis dimana terbagi menjadi dua musim yaitu musim
penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan yang ditandai dengan tingginya
curah hujan menciptakan iklim yang kondusif termasuk bagi penyakit Newcastle disease (ND), Avian
Influenza (AI) dan Infectious Bursal
Disease (IBD). Temperatur dan suhu rendah mengakibatkan virus bertahan
lebih lama dan meningkatkan resiko penyakit sehingga pengendalian penyakit
lebih sulit untuk dilakukan (Mitchell, 2017).
Suhu yang rendah pun mengakibatkan ayam cenderung makan lebih banyak,
minum lebih sedikit dan cenderung berkelompok untuk menghangatkan tubuhnya,
dengan kata lain jarak yang dekat akan meningkatkan resiko transmisi penyakit.
Sebaliknya,
suhu yang hangat akan menyebabkan virus sulit untuk bertahan, namun level
kelembaban yang tinggi dapat memperparah masalah pernafasan dan penyakit enterik.
Ayam pun cenderung untuk lebih sedikit makan dan lebih sering minum. Suhu yang
ekstrim, baik dingin atau panas akan menyebabkan ayam stress, meningkatkan
sensitivitas terhadap penyakit dan mempengaruhi performa produksi (Mitchell,
2017).
Perubahan
iklim secara global turut mempengaruhi penyebaran suatu penyakit, seperti
contohnya perubahan rute migrasi burung akibat berkurangnya sumber makanan dan
air di rute normal sebelumnya. Pertemuan jenis burung yang berbeda diakibatkan
perubahan migrasi ini pun mengakibatkan resiko transmisi penyakit meningkat,
contohnya dalam kasus penyebaran Highly
Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Namun d luar itu semua, Abolnik (2017)
memandang jika penyebaran penyakit lebih disebabkan oleh faktor globalisasi,
yaitu meningkatnya permintaan makanan yang diikuti dengan intensifikasi sistem
produksi dan meningkatnya impor dan ekspor yang mengakibatkan seringkali lalu
lintas menjadi tidak terkontrol.
Penyakit
Viral
Pembahasan tren penyakit yang terjadi saat ini dan tahun
mendatang, dapat dimulai dengan penyakit yang disebabkan oleh virus. Seringkali
digolongkan sebagai penyakit catastrophic
karena besarnya dampak yang ditimbulkan, penyakit Avian Influenza mulai mewabah
di Indonesia pada tahun 2003,terutama di Jawa Tengah dan Banten, lalu menjadi
endemik dan meluas di 9 provinsi sebelum meluas sampai ke 26 provinsi pada
tahun 2006, dan 31 provinsi pada tahun
2007 (Arifin, 2008). Adanya lalu lintas yang masih tidak terkontrol, rendahnya aplikasi
biosekuriti di rumah pemotongan hewan dan kandang (sektor 3 dan 4), sulitnya akses
pemerintah ke peternakan sektor 1 dan 2, dan faktor lainnya menyebabkan
pastinya penyakit AI sulit dikontrol (Arifin, 2008). Belum lagi, pada awal
tahun 2007, H9N2 LPAI yang menyebabkan penurunan produksi telur hingga 70%
mulai terdeteksi di Indonesia.
Newcastle
Disease adalah penyakit viral berikutnya yang bersifat endemik dan
menyebabkan kematian tinggi. Kasus yang dilaporkan di Indonesia sendiri
berfluktuasi yaitu 201.196 di tahun 2002, 324.470 tahun 2003 dan 56.848 di
tahun 2004 dan 120.323 kasus pada tahun 2005. Namun,
perlu diingat bahwa kejadian yang sebenarnya mungkin lebih tinggi karena
aplikasi diagnosa yang terbatas dan peternak yang seringkali tidak melaporkan
kasusnya. Martindah (2017) mencermati di beberapa populasi broiler dan layer
pejantan dapat terjadi satu-dua kali siklus ND pada peternakan dalam setahun,
hal ini menunjukkan virus ini bersifat endemik dan terjadi tergantung musim.
Penuturan peternak, ayam rentan terhadap penyakit ini terutama pada musim
pancaroba (transisi) yaitu Oktober/November
(peralihan dari musim kemarau ke penghujan) dan Mei/Juni (peralihan dari
musim penghujan ke musim kemarau).
Berikutnya
adalah IBD atau gumboro yang tetap menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan
kematian tinggi, terutama untuk strain very
virulent. Strain antigenic variant,
yang tidak atau menimbulkan kematian yang rendah tetapi menimbulkan dampak
imunosupresi yang berkepanjangan, secara global telah meluas ke banyak negara
di 4 benua, dari kacamata penulis perlu dilakukan studi prevalensi di
Indonesia.
Berbicara tentang infectious bronchitis, penyakit IB saat ini seringkali terjadi
dikarenakan kurangnya proteksi vaksin
terhadap serotipe IB yang heterolog (Darminto, 1995). Dharmayanti (2003)
menemukan beberapa strain virus variant di Indonesia dan situasi saat ini
menunjukan jumlah strain variant yang lebih banyak sehingga penentuan program vaksinasi
yang efektif memungkinkan menggunakan lebih dari satu serotipe (Dharmayanti,
2016).
Selain itu, kita masih dapat menjumpai
kejadian Inclusion Body Hepatitis
sebagaimana dikemukakan Pudjiatmoko (2018) bahwa penyakit
ini pernah ada hampir di semua daerah di Indonesia, dan pernah di diagnosa secara
histopatologi dari ayam ras petelur. Masih dalam agen infeksius viral, Avian
metapneumovirus penyebab swollen head
syndrome mulai teridentifikasi di sejumlah daerah, dari diskusi penulis
dengan beberapa praktisi perunggasan, termasuk di area Jawa Timur dan
Kalimantan, vaksin Avian metapneumovirus, baik vaksin live ataupun killed mulai
digemari. Pada ayam petelur, vaksin live SHS menyebabkan berkurangnya gangguan
pernafasan pada periode “laying”
dimana gangguan pernafasan seringkali berkorelasi dengan penurunan produksi telur.
Penyakit Bakterial, Mikotoksin
dan Koksi
Penyakit
bakterial contohnya Infectious Coryza (SNOT) merupakan salah satu penyakit
peringkat atas dan seringkali terjadi di ayam petelur dan diprediksi masih
menjadi momok bagi peternak. Kasus SNOT ditemukan banyak terjadi di Jawa Timur,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara dan telah dilaporkan
oleh banyak peneliti (Putra, 2017).
Selanjutnya adalah Chronic Respiratory Diseease (CRD[DC1] ), yang menjangkit ayam pembibit dan
komersial dan dari pengamatan penulis menyebar hampir di seluruh wilayah di
Indonesia, ditambah dengan infeksi colibasilosis yang menyebakan penyakit CCRD[DC2] . Hal ini terkadang tidak terlepas
dari infeksi virus sebagai agen pembuka pintu gerbang bagi infeksi bakterial.
Selain itu, kejadian
mikotoksikosis masih kita jumpai dan terkadang turut berperan serta sebagai
pintu gerbang penyakit. Mikotoksikosis dapat menekan fungsi imun dan menurunkan
resistensi terhadap penyakit infeksius (Corrier, 1991). Penelitian Tangendjaja (2008) menunjukan beberapa mycotoxin diantaranya
Aflatoxin, ochratoxin, zearalenone, fumonisin, deoxynivalenol, and T2 toxin
terdeteksi di jagung yang digunakan sebagai bahan baku pakan hewan di
Indonesia, dan jagung yang diimportasi dari USA dan Argentina terkontaminasi
level mikotoksin yang lebih rendah dari jagung yang berasal dari lokal. Dari
penelitian sejumlah sampel jagung local, 47% diantaranya ditemukan
mengandung Aflatoxin di atas Standar Nasional Indonesia (SNI).[DC3]
Kasus koksidiosis dan nekrotik
enteritis diklaim banyak terjadi, terutama setelah dimulainya pelarangan
antibiotik sebagai antibiotic growth
promoter. Sebagai gambaran, Hamid (2018) meneliti bahwa di seluruh farm di
Jawa Tengah, dari 699 sampel, 25.04% positif koksidiosis dengan broiler memiki
prevalensi tertinggi (34%), diikuti dengan layer (26.26%) dan ayam kampung
(10.45%). Dari sampel postif tersebut, tujuh spesies Eimeria ditemukan[DC4] .
Penerapan
prinsip dasar, membuka ruang teknologi
Jika kita perhatikan, kurang dari 5% farm
broiler di Indonesia yang menerapkan system closed
house dengan sistem pakan, minum, dan kontrol suhu yang otomatis. Sisanya,
mayoritas masih berupa kandang open house
yang dibuat dari bambu, menggunakan sistem pakan dan minum yang manual
(Brienen, 2014). Dengan tren pemanasan global dan iklim yang ekstrem,
mortalitas di kandang open cenderung lebih tinggi dengan performa ayam yang
kurang maksimal.
Walaupun beberapa negara telah
berbicara tentang eradikasi penyakit, dengan kondisi di Indonesia saat ini,
dasat pengontrolan penyakit harus terlebih dahulu dioptimalkan. Kita mungkin tidak dapat mencegah penyakit masuk
ke kandang, tapi kita bisa menekan penyebarannya dan menurunkan dampak tingkat
keparahan. Manajemen kesehatan pada peternakan harus merupakan kombinasi
antara aplikasi biosekuriti, vaksinasi dan medikasi. Dan tidak lupa, pasca
kebijakan pelarangan AGP, pemakaian antibiotik yang bertanggung jawab juga
harus menjadi fokus utama. Terakhir, kita harus membuka ruang yang luas bagi
masuknya teknologi untuk pendeteksian dan surveillance penyakit yang lebih
menyeluruh. Sebagai contoh, komunitas di Negara Thailand merancang sistem
surveillance dimana partisipasi volunteer dan aplikasi smartphone bernama Participatory One Health
Disease Detection (PODD) memungkinkan pelaporan penyakit yang bersifat realtime
dan tepat lokasi.