Thursday, 4 June 2020

Pasca Pelarangan AGP: Perjalanan Masih Panjang

Oleh : Drh. Diptya Cinantya

(Dimuat di Majalah Infovet Edisi Juli 2019)

Diawali dengan inisiasi di Swedia pada tahun 1986, pelarangan Antibiotik Growth Promoters (AGP) diikuti oleh Denmark, Jerman, Finlandia secara bertahap terhadap beberapa jenis antibiotika, sebelum akhirnya diberlakukan secara menyeluruh di Uni  Eropa pada tahun 2006. Di Amerika, U.S. Food and Drug Administration  pada tahun 2004 melarang penggunaan Enrofloxacin dalam pakan hewan didasarkan kontribusinya pada resistensi terhadap agen pathogen di manusia (Graham et.al., 2007). Di Asia Tenggara sendiri, Thailand dan Vietnam menjadi contoh negara yang memberlakukan ini. Bahkan, pada tahun 2015, Thailand menargetkan pengurangan 30% antibiotik dalam 5 tahun ke depan.

Pelarangan AGP di Indonesia dan negara lain dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap resistensi antibiotik (AMR). Penggunaan antibiotika di indutri peternakan, sektor kedua terbesar setelah praktisi medis, dimana 40% nya digunakan sebagai growth promotor di samping terapi, menjadi satu hal yang dicermati.  Terkait hal ini, pertama kali dikemukakan oleh Starr & Reynold (1951) tentang resistensi streptomycin di ayam kalkun sebelum diikuti adanya laporan resistensi tetracyclin pada ayam yang diasosiasikan dengan pemberian AGP (Bray, 2008). Selain itu, kejadian menunjukkan “gen resistensi” antibiotik dapat terjadi dan ditransmisikan dari hewan ke mikrobiota manusia (Greko, 2001). Penggunaan AGP berlebih dalam pakan akan meningkatkan resiko AMR dan banyak studi menunjukkan AGP berkontribusi terhadap kontaminasi flok dan produk yang dihasilkan oleh bakteri Campylobacter, Salmonella, Enterococcus dan E. coli.

Observasi Pasca Pelarangan AGP

Di lapangan, pandangan dan hasil observasi peternak dan tenaga kesehatan pun beragam. Beberapa testimoni menunjukkan bahwa AGP berpengaruh terhadap performa ayam, antara lain dalam pertambahan bobot berat badan. Sebelum pelarangan AGP, ayam broiler umur 2 minggu, bobot 500 gram bukan hal yang sulit didapat. Setelah pelarangan AGP, rerata berat ayam 400 gram pada umur 2 minggu. Ada yang beranggapan banyak masalah pencernaan yang terjadi pasca pelarangan, sedangkan yang lain beranggapan bahwa insidensi kasus pencernaan seperti coccidiosis atau necrotic enteritis tidak mengalami perubahan yang signifikan.  Pandangan lain menyatakan, dicabutnya AGP (terutama di kandang closed house dengan situasi yang lebih terkontrol) tidak menimbulkan dampak berarti.

Walaupun pada awal pelarangan AGP, beberapa peternak mengkambing-hitamkan kebijakan ini sebagai penyebab turunnya performa, namun adanya observasi dan evaluasi, mereka menyadari masih banyak faktor lain yang turut berperan dalam naik turunnya performa ayam. Menurut pengamatan penulis, hal ini disebabkan peternak dan tenaga kesehatan yang lebih waspada dan melakukan perbaikan dari sisi manajemen maupun biosekuriti, serta mencari dan mencoba beberapa alternatif pengganti AGP.

Kandang modern, biosekuriti ketat dan praktik higienitas menjadi kunci dalam menjaga performa ayam agar tetap optimal. Satu hal yang didapat penulis dari berbincang dengan peternak yang juga sejalan dengan teori adalah mereka meyakini bahwa faktor utama dari pemeliharaan ayam ternak terletak pada kualitas pakan yang baik, sehingga sepanjang kualitasnya baik, maka pelarangan AGP bukanlah hal yang ditakuti.

Ironisnya, pasca pelarangan AGP, terjadi kenaikan tren penggunaan antibiotik, contohnya penggunaan medicated feed yang seringkali diberikan di peternak kemitraan, dimana pakan dan obat, vitamin, vaksinasi (OVK) telah diatur. Sayangnya, masih ditemui penambahan antibiotik dalam pakan yang dilakukan peternak tanpa resep dan pengawasan dokter hewan. Hal ini dikarenakan antibiotik untuk self-mixing sangat gampang didapatkan, bahkan banyak yang dijual bebas secara online dengan kata kunci “antibiotik pemacu pertumbuhan”.

 

Dari segi ekonomi, suatu penelitian yang mengobservasi produksi dalam satu tahun menunjukkan bahwa peniadaan AGP pada broiler komersial tidak mempengaruhi performa dan hasil produksi (Bray, 2008). Akan tetapi, diperlukan penelitian aktual untuk Indonesia yang memilki iklim, geografis dan kondisi peternakan yang berbeda.

 

Alternatif pengganti AGP

Mekanisme AGP dikaitkan dengan interaksi antara antibiotik dan populasi mikroba usus dengan tujuan untuk menghambat infeksi endemik subklinis dengan menurunkan “usaha” dari sistem imun non spesifik, menurunkan produk yang dihasilkan oleh mikroba dan dapat menekan pertumbuhan ayam, dan menurunkan penggunaan nutrisi oleh mikroba (Bray, 2008 ). Mikroflora usus yang dapat menghambat pertumbuhan ayam baik secara langsung atau tidak langsung dapat dikontrol dengan penggunaan AGP. Alternatif pengganti AGP banyak tersedia, walaupun sifatnya hanya bersifat “menambal” secara parsial, tidak menggantikan, namun beberapa terbukti memberikan hasil yang signifikan.

Beberapa hal dilakukan dengan peniadaan AGP dapat digolongkan menjadi beberapa kategori. Pertama, membatasi ketersediaan nutrien untuk bakteri usus, misalnya dengan meningkatkan kualitas dari pakan. Dengan makin baiknya kualitas pakan, maka komponen yang tidak dapat tercerna yang dapat menjadi “ladang” bagi pertumbuhan bakteri dapat dikurangi. Penambahan enzim yang meningkatkan daya cerna juga dapat menjadi pilihan. Selanjutnya, dengan meningkatkan dominasi bakteri baik, hal ini dapat dilakukan dengan prebiotik atau probiotik. Aktivitas antimikrobial juga bisa didapatkan dari asam organik, herbal, rempah atau essential oil.

Hal lain yang sama pentingnya adalah peningkatan imunitas dari hewan itu sendiri, yaitu dengan penggunaan vaksin, immune-modulator dan juga pemberian nutrisi. Vaksinasi sebagai upaya pencegahan dan perlindungan terhadap berbagai agen infeksius akan menjadi salah satu alat untuk menimalkan berbagai penyakit klinis yang beberapa diantaranya dapat menimbulkan immunosupresi. Mengurangi infeksi viral pun dapat mengurangi penggunaan antibiotik dikarenakan dapat meminimalisir misdiagnosa dan penggunaan antibiotik dalam kaitan pencegahannya terhadap infeksi sekunder (Urhan et al, 2017).

 

Penggunaan Antibiotik yang bertanggung jawab

Selain pelarangan antibiotik sebagai growh promoter, tujuan dari diterapkannya peraturan ini akan mengarah pengurangan antibiotik secara total. Hal ini sejalan dengan permintaan daging yang dihasilkan tanpa penggunaan antibiotik yang rutin mulai menjadi tren. Awal tahun 2015, McDonald’s mengumumkan hanya akan menyajikan ayam yang dipelihara tanpa menggunakan medically important antibiotic (tergolong penting di manusia) dalam 2 tahun ke depan di sekitar 14000 restaurant di Amerika. 

Pasca aturan pelarangan AGP, beberapa yang sudah dan dapat dilakukan yaitu antara lain reklasifikasi antibiotik, pengontrolan dalam pakan dan pembatasan medically important antibiotic, pengetatan distibusi dari farmasetik aktif, serta pengetatan aturan hukum jika terindikasi adanya penyalahgunaan obat secara illegal. Hal ini sejalan dengan rekomendasi OIE di samping perlunya melakukan monitoring terhadap jumlah antibiotik yang digunakan dan juga dilakukannya surveillance AMR. Pelarangan AGP ini merupakan langkah awal yang baik, namun masih diperlukan banyak langkah untuk mengantisipasi AMR.

Akhir kata, penulis ingin menyampaikan hasil investigasi Bureau, yang menunjukkan bahwa walaupun penjualan antibiotik di Amerika Serikat menurun sekitar 30% pada tahun 2017, namun US Food Safety Inspection Service  menunjukkan dari pemeriksaan ribuan sampel daging, antibiotik kritikal masih banyak digunakan dalam jumlah yang tak dapat diterima. Kesimpulan penulis adalah pelarangan AGP akan terasa percuma jika kita tidak menyadari akar masalah dan tujuan dari diterapkannya peraturan ini, sehingga alih-alih berusaha mengurangi pemakaian antibiotik untuk mencegah resistensi, pemakaian antibiotik yang tidak bertanggung jawab akan semakin meningkat.


No comments:

Post a Comment