Oleh : Drh. Diptya Cinantya
(Dimuat di Majalah Infovet Edisi Juli 2019)
Diawali
dengan inisiasi di Swedia pada tahun 1986, pelarangan Antibiotik Growth
Promoters (AGP) diikuti oleh Denmark, Jerman, Finlandia secara bertahap
terhadap beberapa jenis antibiotika, sebelum akhirnya diberlakukan secara
menyeluruh di Uni Eropa pada tahun 2006.
Di Amerika, U.S. Food and Drug Administration pada tahun 2004 melarang penggunaan
Enrofloxacin dalam pakan hewan didasarkan kontribusinya pada resistensi terhadap
agen pathogen di manusia (Graham et.al., 2007). Di Asia Tenggara sendiri,
Thailand dan Vietnam menjadi contoh negara yang memberlakukan ini. Bahkan, pada
tahun 2015, Thailand menargetkan pengurangan 30% antibiotik dalam 5 tahun ke
depan.
Pelarangan AGP
di Indonesia dan negara lain dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap
resistensi antibiotik (AMR). Penggunaan antibiotika di indutri peternakan, sektor
kedua terbesar setelah praktisi medis, dimana 40% nya digunakan sebagai growth
promotor di samping terapi, menjadi satu hal yang dicermati. Terkait
hal ini, pertama kali dikemukakan oleh Starr & Reynold (1951) tentang resistensi
streptomycin di ayam kalkun sebelum
diikuti adanya laporan resistensi tetracyclin
pada ayam yang diasosiasikan dengan pemberian AGP (Bray, 2008). Selain itu,
kejadian menunjukkan “gen resistensi” antibiotik dapat terjadi dan
ditransmisikan dari hewan ke mikrobiota manusia (Greko, 2001). Penggunaan AGP
berlebih dalam pakan akan meningkatkan resiko AMR dan banyak studi menunjukkan AGP
berkontribusi terhadap kontaminasi flok dan produk yang dihasilkan oleh bakteri
Campylobacter, Salmonella, Enterococcus dan E. coli.
Observasi
Pasca Pelarangan AGP
Di lapangan, pandangan
dan hasil observasi peternak dan tenaga kesehatan pun beragam. Beberapa
testimoni menunjukkan bahwa AGP berpengaruh terhadap performa ayam, antara lain
dalam pertambahan bobot berat badan. Sebelum pelarangan AGP, ayam broiler umur
2 minggu, bobot 500 gram bukan hal yang sulit didapat. Setelah pelarangan AGP,
rerata berat ayam 400 gram pada umur 2 minggu. Ada yang beranggapan banyak
masalah pencernaan yang terjadi pasca pelarangan, sedangkan yang lain
beranggapan bahwa insidensi kasus pencernaan seperti coccidiosis atau necrotic
enteritis tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pandangan lain menyatakan, dicabutnya AGP (terutama
di kandang closed house dengan
situasi yang lebih terkontrol) tidak menimbulkan dampak berarti.
Walaupun pada
awal pelarangan AGP, beberapa peternak mengkambing-hitamkan kebijakan ini
sebagai penyebab turunnya performa, namun adanya observasi dan evaluasi, mereka
menyadari masih banyak faktor lain yang turut berperan dalam naik turunnya
performa ayam. Menurut pengamatan penulis, hal ini disebabkan peternak dan tenaga
kesehatan yang lebih waspada dan melakukan perbaikan dari sisi manajemen maupun
biosekuriti, serta mencari dan mencoba beberapa alternatif pengganti AGP.
Kandang
modern, biosekuriti ketat dan praktik higienitas menjadi kunci dalam menjaga
performa ayam agar tetap optimal. Satu hal yang didapat penulis dari berbincang
dengan peternak yang juga sejalan dengan teori adalah mereka meyakini bahwa faktor
utama dari pemeliharaan ayam ternak terletak pada kualitas pakan yang baik,
sehingga sepanjang kualitasnya baik, maka pelarangan AGP bukanlah hal yang ditakuti.
Ironisnya, pasca pelarangan AGP, terjadi kenaikan tren
penggunaan antibiotik, contohnya penggunaan medicated
feed yang seringkali diberikan di peternak kemitraan, dimana pakan dan obat,
vitamin, vaksinasi (OVK) telah diatur. Sayangnya, masih ditemui penambahan
antibiotik dalam pakan yang dilakukan peternak tanpa resep dan pengawasan
dokter hewan. Hal ini dikarenakan antibiotik untuk self-mixing sangat
gampang didapatkan, bahkan banyak yang dijual bebas secara online dengan
kata kunci “antibiotik pemacu pertumbuhan”.
Dari segi ekonomi, suatu penelitian yang mengobservasi
produksi dalam satu tahun menunjukkan bahwa peniadaan AGP pada broiler
komersial tidak mempengaruhi performa dan hasil produksi (Bray, 2008). Akan tetapi,
diperlukan penelitian aktual untuk Indonesia yang memilki iklim, geografis dan
kondisi peternakan yang berbeda.
Alternatif
pengganti AGP
Mekanisme AGP
dikaitkan dengan interaksi antara antibiotik dan populasi mikroba usus dengan
tujuan untuk menghambat infeksi endemik subklinis dengan menurunkan “usaha”
dari sistem imun non spesifik, menurunkan produk yang dihasilkan oleh mikroba
dan dapat menekan pertumbuhan ayam, dan menurunkan penggunaan nutrisi oleh
mikroba (Bray, 2008 ). Mikroflora usus yang dapat menghambat pertumbuhan ayam
baik secara langsung atau tidak langsung dapat dikontrol dengan penggunaan AGP.
Alternatif pengganti AGP banyak tersedia, walaupun sifatnya hanya bersifat
“menambal” secara parsial, tidak menggantikan, namun beberapa terbukti
memberikan hasil yang signifikan.
Beberapa hal
dilakukan dengan peniadaan AGP dapat digolongkan menjadi beberapa kategori. Pertama,
membatasi ketersediaan nutrien untuk bakteri usus, misalnya dengan meningkatkan
kualitas dari pakan. Dengan makin baiknya kualitas pakan, maka komponen yang
tidak dapat tercerna yang dapat menjadi “ladang” bagi pertumbuhan bakteri dapat
dikurangi. Penambahan enzim yang meningkatkan daya cerna juga dapat menjadi
pilihan. Selanjutnya, dengan meningkatkan dominasi bakteri baik, hal ini dapat
dilakukan dengan prebiotik atau probiotik. Aktivitas antimikrobial juga bisa
didapatkan dari asam organik, herbal, rempah atau essential oil.
Hal lain yang sama pentingnya adalah peningkatan imunitas
dari hewan itu sendiri, yaitu dengan penggunaan vaksin, immune-modulator dan juga pemberian nutrisi. Vaksinasi sebagai upaya
pencegahan dan perlindungan terhadap berbagai agen infeksius akan menjadi salah
satu alat untuk menimalkan berbagai penyakit klinis yang beberapa diantaranya
dapat menimbulkan immunosupresi. Mengurangi infeksi viral pun dapat mengurangi
penggunaan antibiotik dikarenakan dapat meminimalisir misdiagnosa dan
penggunaan antibiotik dalam kaitan pencegahannya terhadap infeksi sekunder
(Urhan et al, 2017).
Penggunaan
Antibiotik yang bertanggung jawab
Selain pelarangan antibiotik sebagai growh promoter, tujuan
dari diterapkannya peraturan ini akan mengarah pengurangan antibiotik secara
total. Hal ini sejalan dengan permintaan daging yang dihasilkan tanpa
penggunaan antibiotik yang rutin mulai menjadi tren. Awal tahun 2015,
McDonald’s mengumumkan hanya akan menyajikan ayam yang dipelihara tanpa
menggunakan medically important antibiotic
(tergolong penting di manusia) dalam 2 tahun ke depan di sekitar 14000
restaurant di Amerika.
Pasca aturan
pelarangan AGP, beberapa yang sudah dan dapat dilakukan yaitu antara lain
reklasifikasi antibiotik, pengontrolan dalam pakan dan pembatasan medically important antibiotic, pengetatan distibusi dari farmasetik aktif,
serta pengetatan aturan hukum jika terindikasi adanya penyalahgunaan obat
secara illegal. Hal ini sejalan dengan rekomendasi OIE di samping perlunya
melakukan monitoring terhadap jumlah antibiotik yang digunakan dan juga
dilakukannya surveillance AMR. Pelarangan AGP ini merupakan
langkah awal yang baik, namun masih diperlukan banyak langkah untuk
mengantisipasi AMR.
Akhir kata,
penulis ingin menyampaikan hasil investigasi Bureau, yang menunjukkan
bahwa walaupun penjualan antibiotik di Amerika Serikat menurun sekitar 30% pada
tahun 2017, namun US Food Safety Inspection Service menunjukkan dari pemeriksaan ribuan sampel
daging, antibiotik kritikal masih banyak digunakan dalam jumlah yang tak dapat
diterima. Kesimpulan penulis adalah pelarangan AGP akan terasa percuma jika
kita tidak menyadari akar masalah dan tujuan dari diterapkannya peraturan ini,
sehingga alih-alih berusaha mengurangi pemakaian antibiotik untuk mencegah
resistensi, pemakaian antibiotik yang tidak bertanggung jawab akan semakin
meningkat.
No comments:
Post a Comment