Thursday, 4 June 2020

Dinamika Penyakit Unggas di Indonesia

Dimuat di Majalah Infovet edisi Desember 2019

 

Kita dapat mengamati insidensi dari emerging disease di hewan ternak dan manusia terus meningkat, hal ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya kontak antara hewan liar, hewan ternak dan manusia (Astill, 2018). Pun di Indonesia, beberapa penyakit yang sudah ada sejak beberapa dekade yang lalu bisa tetap kita temui sekarang dengan tingkat insidensi yang semakin meningkat, sedangkan beberapa penyakit tetap menjadi endemik hingga saat ini. Pola berulang cenderung terjadi dan persistensi dan tren penyakit yang paling banyak ditemui cenderung tidak berubah dari tahun ke tahun.

Iklim dan Globalisasi sebagai Faktor Utama Predisposisi

Indonesia merupakan negara beriklim tropis dimana terbagi menjadi dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan yang ditandai dengan tingginya curah hujan menciptakan iklim yang kondusif termasuk  bagi penyakit Newcastle disease (ND), Avian Influenza (AI) dan Infectious Bursal Disease (IBD). Temperatur dan suhu rendah mengakibatkan virus bertahan lebih lama dan meningkatkan resiko penyakit sehingga pengendalian penyakit lebih sulit untuk dilakukan (Mitchell, 2017).  Suhu yang rendah pun mengakibatkan ayam cenderung makan lebih banyak, minum lebih sedikit dan cenderung berkelompok untuk menghangatkan tubuhnya, dengan kata lain jarak yang dekat akan meningkatkan resiko transmisi penyakit.

Sebaliknya, suhu yang hangat akan menyebabkan virus sulit untuk bertahan, namun level kelembaban yang tinggi dapat memperparah masalah pernafasan dan penyakit enterik. Ayam pun cenderung untuk lebih sedikit makan dan lebih sering minum. Suhu yang ekstrim, baik dingin atau panas akan menyebabkan ayam stress, meningkatkan sensitivitas terhadap penyakit dan mempengaruhi performa produksi (Mitchell, 2017).

Perubahan iklim secara global turut mempengaruhi penyebaran suatu penyakit, seperti contohnya perubahan rute migrasi burung akibat berkurangnya sumber makanan dan air di rute normal sebelumnya. Pertemuan jenis burung yang berbeda diakibatkan perubahan migrasi ini pun mengakibatkan resiko transmisi penyakit meningkat, contohnya dalam kasus penyebaran Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Namun d luar itu semua, Abolnik (2017) memandang jika penyebaran penyakit lebih disebabkan oleh faktor globalisasi, yaitu meningkatnya permintaan makanan yang diikuti dengan intensifikasi sistem produksi dan meningkatnya impor dan ekspor yang mengakibatkan seringkali lalu lintas menjadi tidak terkontrol.

Penyakit Viral

Pembahasan tren penyakit yang terjadi saat ini dan tahun mendatang, dapat dimulai dengan penyakit yang disebabkan oleh virus. Seringkali digolongkan sebagai penyakit catastrophic karena besarnya dampak yang ditimbulkan, penyakit Avian Influenza mulai mewabah di Indonesia pada tahun 2003,terutama di Jawa Tengah dan Banten, lalu menjadi endemik dan meluas di 9 provinsi sebelum meluas sampai ke 26 provinsi pada tahun 2006, dan 31 provinsi pada  tahun 2007 (Arifin, 2008). Adanya lalu lintas yang masih tidak terkontrol, rendahnya aplikasi biosekuriti di rumah pemotongan hewan dan kandang (sektor 3 dan 4), sulitnya akses pemerintah ke peternakan sektor 1 dan 2, dan faktor lainnya menyebabkan pastinya penyakit AI sulit dikontrol (Arifin, 2008). Belum lagi, pada awal tahun 2007, H9N2 LPAI yang menyebabkan penurunan produksi telur hingga 70% mulai terdeteksi di Indonesia.

            Newcastle Disease adalah penyakit viral berikutnya yang bersifat endemik dan menyebabkan kematian tinggi. Kasus yang dilaporkan di Indonesia sendiri berfluktuasi yaitu 201.196 di tahun 2002, 324.470 tahun 2003 dan 56.848 di tahun 2004 dan 120.323 kasus pada tahun 2005. Namun, perlu diingat bahwa kejadian yang sebenarnya mungkin lebih tinggi karena aplikasi diagnosa yang terbatas dan peternak yang seringkali tidak melaporkan kasusnya. Martindah (2017) mencermati di beberapa populasi broiler dan layer pejantan dapat terjadi satu-dua kali siklus ND pada peternakan dalam setahun, hal ini menunjukkan virus ini bersifat endemik dan terjadi tergantung musim. Penuturan peternak, ayam rentan terhadap penyakit ini terutama pada musim pancaroba (transisi) yaitu Oktober/November  (peralihan dari musim kemarau ke penghujan) dan Mei/Juni (peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau).

Berikutnya adalah IBD atau gumboro yang tetap menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan kematian tinggi, terutama untuk strain very virulent. Strain antigenic variant, yang tidak atau menimbulkan kematian yang rendah tetapi menimbulkan dampak imunosupresi yang berkepanjangan, secara global telah meluas ke banyak negara di 4 benua, dari kacamata penulis perlu dilakukan studi prevalensi di Indonesia.

Berbicara tentang infectious bronchitis, penyakit IB saat ini seringkali terjadi dikarenakan kurangnya proteksi vaksin  terhadap serotipe IB yang heterolog (Darminto, 1995). Dharmayanti (2003) menemukan beberapa strain virus variant di Indonesia dan situasi saat ini menunjukan jumlah strain variant yang lebih banyak sehingga penentuan program vaksinasi yang efektif memungkinkan menggunakan lebih dari satu serotipe (Dharmayanti, 2016).

Selain itu, kita masih dapat menjumpai kejadian Inclusion Body Hepatitis sebagaimana dikemukakan Pudjiatmoko (2018) bahwa penyakit ini pernah ada hampir di semua daerah di Indonesia, dan pernah di diagnosa secara histopatologi dari ayam ras petelur. Masih dalam agen infeksius viral, Avian metapneumovirus penyebab swollen head syndrome mulai teridentifikasi di sejumlah daerah, dari diskusi penulis dengan beberapa praktisi perunggasan, termasuk di area Jawa Timur dan Kalimantan, vaksin Avian metapneumovirus, baik vaksin live ataupun killed mulai digemari. Pada ayam petelur, vaksin live SHS menyebabkan berkurangnya gangguan pernafasan pada periode “laying” dimana gangguan pernafasan seringkali berkorelasi dengan  penurunan produksi telur.

Penyakit Bakterial, Mikotoksin dan Koksi

Penyakit bakterial contohnya Infectious Coryza (SNOT) merupakan salah satu penyakit peringkat atas dan seringkali terjadi di ayam petelur dan diprediksi masih menjadi momok bagi peternak. Kasus SNOT ditemukan banyak terjadi di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara dan telah dilaporkan oleh banyak peneliti (Putra, 2017).

Selanjutnya adalah Chronic Respiratory Diseease (CRD[DC1] ), yang menjangkit ayam pembibit dan komersial dan dari pengamatan penulis menyebar hampir di seluruh wilayah di Indonesia, ditambah dengan infeksi colibasilosis yang menyebakan penyakit CCRD[DC2] . Hal ini terkadang tidak terlepas dari infeksi virus sebagai agen pembuka pintu gerbang bagi infeksi bakterial.

Selain itu, kejadian mikotoksikosis masih kita jumpai dan terkadang turut berperan serta sebagai pintu gerbang penyakit.  Mikotoksikosis dapat menekan fungsi imun dan menurunkan resistensi terhadap penyakit infeksius (Corrier, 1991).  Penelitian Tangendjaja (2008) menunjukan beberapa mycotoxin diantaranya Aflatoxin, ochratoxin, zearalenone, fumonisin, deoxynivalenol, and T2 toxin terdeteksi di jagung yang digunakan sebagai bahan baku pakan hewan di Indonesia, dan jagung yang diimportasi dari USA dan Argentina terkontaminasi level mikotoksin yang lebih rendah dari jagung yang berasal dari lokal. Dari penelitian sejumlah sampel jagung local, 47% diantaranya ditemukan mengandung Aflatoxin di atas Standar Nasional Indonesia (SNI).[DC3] 

Kasus koksidiosis dan nekrotik enteritis diklaim banyak terjadi, terutama setelah dimulainya pelarangan antibiotik sebagai antibiotic growth promoter. Sebagai gambaran, Hamid (2018) meneliti bahwa di seluruh farm di Jawa Tengah, dari 699 sampel, 25.04% positif koksidiosis dengan broiler memiki prevalensi tertinggi (34%), diikuti dengan layer (26.26%) dan ayam kampung (10.45%). Dari sampel postif tersebut, tujuh spesies Eimeria ditemukan[DC4] .

Penerapan prinsip dasar, membuka ruang teknologi

Jika kita perhatikan, kurang dari 5% farm broiler di Indonesia yang menerapkan system closed house dengan sistem pakan, minum, dan kontrol suhu yang otomatis. Sisanya, mayoritas masih berupa kandang open house yang dibuat dari bambu, menggunakan sistem pakan dan minum yang manual (Brienen, 2014). Dengan tren pemanasan global dan iklim yang ekstrem, mortalitas di kandang open cenderung lebih tinggi dengan performa ayam yang kurang maksimal.

Walaupun beberapa negara telah berbicara tentang eradikasi penyakit, dengan kondisi di Indonesia saat ini, dasat pengontrolan penyakit harus terlebih dahulu dioptimalkan. Kita mungkin tidak dapat mencegah penyakit masuk ke kandang, tapi kita bisa menekan penyebarannya dan menurunkan dampak tingkat keparahan. Manajemen kesehatan pada peternakan harus merupakan kombinasi antara aplikasi biosekuriti, vaksinasi dan medikasi. Dan tidak lupa, pasca kebijakan pelarangan AGP, pemakaian antibiotik yang bertanggung jawab juga harus menjadi fokus utama. Terakhir, kita harus membuka ruang yang luas bagi masuknya teknologi untuk pendeteksian dan surveillance penyakit yang lebih menyeluruh. Sebagai contoh, komunitas di Negara Thailand merancang sistem surveillance dimana partisipasi volunteer dan aplikasi smartphone bernama Participatory One Health Disease Detection (PODD) memungkinkan pelaporan penyakit yang bersifat realtime dan tepat lokasi.



No comments:

Post a Comment