Saturday, 26 June 2021

Tren Penyakit Unggas secara Global: Perubahan yang tidak bisa dihindari

Dimuat di Vetnesia edisi Desember 2019

 

            Industri unggas merupakan yang tidak pernah berhenti untuk berkembang. Merujuk pada Statista 2019 dan WATT 2018, pada tahun 2017, terdapat 22,85 miliar ayam di dunia, meningkat hampir 60% dibandingkan dengan tahun 2000 dengan populasi 14.38 miliar ayam dengan produksi daging mencapai 123 juta ton pada tahun 2018 dan diprediksi meningkat menjadi 139 juta metrik ton pada tahun 2027. Hal ini belum mencakup produksi telur yang mencapai 74 juta metrik ton di tahun 2018. Dan sejalan dengan peningkatan populasi, penyakit unggas tetap menjadi tantangan utama terhadap industri. Sebagai gambaran, Biggs (1982) melaporkan total cost dari pengontrolan penyakit mencakup 20% dari nilai gross produksi (GVP) dan bisa mencapai tiga kali lipat yang berasal dari kerugian akibat kematian. Penulis mencoba merangkum tren penyakit unggas selama dua-dan lebih fokus ke satu- dekade terakhir untuk melihat bagaimana dinamika penyakit secara global terutama digolongkan berdasarkan dampak yang ditimbulkan.

Penyakit catastrophic

            Dengan tingginya angka kematian dan kecepatan penyebaran yang tinggi, penyakit Avian Influenza (AI), terutama bentuk high pathogenic, memang selalu menjadi primadona dalam penyakit yang paling banyak ditakuti. Dengan persistensi di unggas domestik selama 23 tahun, AI telah emnjaid penyakit endemis di banyak negara termasuk Asia Tenggara, Afrika Utara dan Barat, termasuk oubreak sporadic di benua Eropa. Ditambah lagi adanya concern kemungkinan mutasi genetic dari virus yang mengakibatkan perubahan dari komponen genetic yang menyebabkan strain unggas menjadi pathogen ke manusia. Data WHO menyebutkan bahwa kasus pada manusia akibat Avian Influenza A (H5N1) di seluruh dunia dari tahun 2003-2019 yaitu sebanyak 861 kasus dengan 455 kasus diantara meninggal dunia. Setelah melewati empat pandemic, saat ini identifikasi bahwa seluruh subtype virus Infuenza A terdapat pada babi dan bebek yang bermigrasi dan di dalam danau tempat mereka bersarang, menyebabkan seluruh 16 subtipe HA dan 9 NA sebagai kandidat potensial terhadap kemungkinan terjadinya pandemik di masa depan tidak dapat kita kesampingkan (Kida, 2019)

Selanjutnya adalah Newcastle disease velogenik, yang tidak hanya menjadi masalah serius di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit ini berrsifat endemik di 60% negara di seluruh dunia, dengan pengecualian di Amerika utara.  Newcastle disease pandemic ke 4 dipercaya terjadi pada akhir tahun 1980s yang banyak disebabkan genotype VII dan VIII mengakibatkan kerugian ekenomi pada banyak negara di Asia tenggara, eropa, afrika dan amerika. Saat ini, diketahui banyaknya ekspansi secara geografis dengan identifikasi dari subgenotipe VIIh dan VIIi, kita perlu mengansipasi panzootic kelima. Dalam tahun-tahun belakangan, oubreak ND berlanjut di berbagai bagian asia, afrika, eropa dan amerika utara. ND bersifat endemic di 60% negara di seluruh bagian dunia. Sejauh ini 42 negara telah melaporkan hampir 4000 outbreak ND sejak 2008 (Liu, 2019).

Yang tidak kalah terkenal dengan tingkat kematiannya yang tinggi adalah very virulent infectious bursal disease (IBD). Dari 36 negara yang tersebar ke dalam 5 benua, penggabungan klasifikasi oleh  valls (2019) dan Michael Jackwood (2017) menemukan bahwa 21 negara di 4 benua teridentifikasi adanya vvIBD. Sedangkan IBDV tipe klasik terdapat pada 26 negara yang tersebar di seluruh benua. Variant virus, sampai dengan februari 2019, terdentifikasi meluas ke 13 negara dalam 4 benua. IBD terakhir, dikarenakan dampaknya yang rendah tapi menimbulkan efek berkepanjangan, dapat digolongkan ke dalam tipe ke dua, erosive disease.

Erosive disease

Penggolongan selanjutnya adalah penyakit erosive yang banyak didominasi oleh penyakit pernafasan dan pencernaan, termasuk pula yang menyerang system imun (Shane, 2010). Selain itu, faktor immunosupresi yang dtimbulkan menyebabkan penurunan pada respon terhadap vaksinasi terutama pada ayam muda dan peningkatan resiko terhadap infeksi penyakit lainnya. Akan tetapi, kondisi immunosupresif ini seringkali tidak disadari dan menjadi penyebab penyakit yang silent, namun pada kenyatannya menyebabkan kehilangan ekonomi yang lebih tinggi karena dampaknya dalam jangka waktu lama dibandingkan dengan kematian “lansung” dalam waktu pendek .

Selain IBD, Infectious bronchitis tipe variant mulai banyak teridentifikasi di dseluruh dunia. Secara global, dari 38 negara dari 4 benua dalam periode 20009-2018, Dolz (2019) melaporkan bahwa secara global, genotype QX merupakan IB lapangan yang paling banyak terdeteksi di broiler, sedangakn 793B merupakan genotype yng plaing banyak terdetreksi di longlife birds (layer dan broiler breeder).

Selanjutnya adalah koksidiosis, yang menyebabkan kerugian sebesar tiga miliar euro per tahun, yang terdiri tidak hanya koksidiosis klinis, namun juga subklinis yang prevalensinya mencapai 20% di seluruh dunia. Urgensi pemeliharaan broiler tanpa antibiotik atau beberapa golongan koksidiostat, mengakibatkan vaksin antikoksi yang efektif perlu diterapkan, termasuk terobosan vaksin yang menggunakan adjuvant yang bersifat immunomodulator.

Emerging disease

Penyakit emerging disease merupakan penyakit yang menurut pengamatan penulis memiliki dinamika  yang sangat menarik.  Penggolongan penyakit ini bisa merupakan penyakit baru yang sebelum tidak pernah terjadi atau penyakit yang sudah dikenali sebelumnya namun penyebabnya belum secara jelas diketahui (Bagust,2013). Sedangkan menurut WHO, emerging disease dapat dikategorikan sebagai penyakit yang telah ditemukan sebelumnya namun terjadi peningkatan  baik dari segi inseidensi atau area geografis.

Beberapa  penyakit yang telah disebutkan sebelumnya, seperti IBD Variant (yang terdentifikasi pada ayam broiler di Kanada (Senei, 2019)) dan juga IB Variant termasuk ke dalam emerging disease di beberapa negara. Lalu ada Avian metapneumovirus yang banyak terjadi di layer komersil dan broiler breeder di Myanmar ( Aung, 2019) serta infeksi Mycoplasma Synoviae di layer komersial.

Yang juga ramai terdengar beberapa tahun belakangan adalah inclusion body hepatitis (IBH) yang menyebakan kerugian ekonomi  yang besar di US dan Kanada, (Dar, 2012),  dan bersifat endemic di India (Kumar, 2013) serta merupakan saalh satu penyakit yang memilki prevalensi paling tinggi pada broiler sebanyak 10.4% pada periode 2010-2014 (gawel, 2016). Di Indonesia sendiri, penyakit ini pernah ada hampir di semua daerah dan pernah didiagnosa secara histopatologi dari ayam ras petelur (Pudjiatmoko, 2018). Sedangkan dari kluster bacterial, Enterococcus cecorum merupakan salah satu emerging pathogen di unggas yang menyebabkan femoral head nekrosis dan spondylitis di broiler (Jung, 2014)

Penyakit Zoonosis

Selain Avian influenza, penyakit zoonosis banyak terdapat pada aspek kesehatan pangan. Campylobacter di manusia, merupakan penyebab diare-bakterial yang paling tinggi di negara berkembang dengan jumlah kejadian di Amerika sebanyak 850.000- sampai lebih dari 2 juta kasus di US dan lebih darin 70% kasus di seluruh dunia yang etrkait dengan konsumsi daging ayam daging unggas (dale, 2003), diikuti oleh Salmonella spp. di telur yang terkontaminasi, serta E.coli yang menyebabkan pencemaran air.

Seiring perkembangan teknologi, sinergi terus dihasilkan dalam banyak aspek utama termasuk manajemen, operkandangamn, nutrisi, dan formulasi pakan, serta penerapan pengetahuan gemetik di program breeding komersial dan diikuti dengan diagnose dan pengontrolan penyakit yang lebih baik, semua hal ini menyebakan penyakit unggas bukan hal ayng sulit untuk diprediksi (FAO, 2013). Seperti yang dilakukan Astill et. Al (2018) ayng menerapkan teknologi barui dan “big data:” dalam mendeteksi dan memporediksi Avian Influenza. Hal ini meliputi deteksi cepat dengan diagnostic berteknologi, pengumpulan data dengan model prediktif berbasis internet dan environmental data, yang bisa digunakan untuk system support yang bisa memprediksi kapan dan dimana penyakit ini akan muncul. Namun, bagaimanapun usaha yang dilakukan, dengan virus yang terus menerus bermutasi, kita harus menerima kenyataan bahwa strain virus yang baru dan problem penyakit akan terus berdatangan di masa depan.

Thursday, 4 June 2020

Dinamika Penyakit Unggas di Indonesia

Dimuat di Majalah Infovet edisi Desember 2019

 

Kita dapat mengamati insidensi dari emerging disease di hewan ternak dan manusia terus meningkat, hal ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya kontak antara hewan liar, hewan ternak dan manusia (Astill, 2018). Pun di Indonesia, beberapa penyakit yang sudah ada sejak beberapa dekade yang lalu bisa tetap kita temui sekarang dengan tingkat insidensi yang semakin meningkat, sedangkan beberapa penyakit tetap menjadi endemik hingga saat ini. Pola berulang cenderung terjadi dan persistensi dan tren penyakit yang paling banyak ditemui cenderung tidak berubah dari tahun ke tahun.

Iklim dan Globalisasi sebagai Faktor Utama Predisposisi

Indonesia merupakan negara beriklim tropis dimana terbagi menjadi dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan yang ditandai dengan tingginya curah hujan menciptakan iklim yang kondusif termasuk  bagi penyakit Newcastle disease (ND), Avian Influenza (AI) dan Infectious Bursal Disease (IBD). Temperatur dan suhu rendah mengakibatkan virus bertahan lebih lama dan meningkatkan resiko penyakit sehingga pengendalian penyakit lebih sulit untuk dilakukan (Mitchell, 2017).  Suhu yang rendah pun mengakibatkan ayam cenderung makan lebih banyak, minum lebih sedikit dan cenderung berkelompok untuk menghangatkan tubuhnya, dengan kata lain jarak yang dekat akan meningkatkan resiko transmisi penyakit.

Sebaliknya, suhu yang hangat akan menyebabkan virus sulit untuk bertahan, namun level kelembaban yang tinggi dapat memperparah masalah pernafasan dan penyakit enterik. Ayam pun cenderung untuk lebih sedikit makan dan lebih sering minum. Suhu yang ekstrim, baik dingin atau panas akan menyebabkan ayam stress, meningkatkan sensitivitas terhadap penyakit dan mempengaruhi performa produksi (Mitchell, 2017).

Perubahan iklim secara global turut mempengaruhi penyebaran suatu penyakit, seperti contohnya perubahan rute migrasi burung akibat berkurangnya sumber makanan dan air di rute normal sebelumnya. Pertemuan jenis burung yang berbeda diakibatkan perubahan migrasi ini pun mengakibatkan resiko transmisi penyakit meningkat, contohnya dalam kasus penyebaran Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Namun d luar itu semua, Abolnik (2017) memandang jika penyebaran penyakit lebih disebabkan oleh faktor globalisasi, yaitu meningkatnya permintaan makanan yang diikuti dengan intensifikasi sistem produksi dan meningkatnya impor dan ekspor yang mengakibatkan seringkali lalu lintas menjadi tidak terkontrol.

Penyakit Viral

Pembahasan tren penyakit yang terjadi saat ini dan tahun mendatang, dapat dimulai dengan penyakit yang disebabkan oleh virus. Seringkali digolongkan sebagai penyakit catastrophic karena besarnya dampak yang ditimbulkan, penyakit Avian Influenza mulai mewabah di Indonesia pada tahun 2003,terutama di Jawa Tengah dan Banten, lalu menjadi endemik dan meluas di 9 provinsi sebelum meluas sampai ke 26 provinsi pada tahun 2006, dan 31 provinsi pada  tahun 2007 (Arifin, 2008). Adanya lalu lintas yang masih tidak terkontrol, rendahnya aplikasi biosekuriti di rumah pemotongan hewan dan kandang (sektor 3 dan 4), sulitnya akses pemerintah ke peternakan sektor 1 dan 2, dan faktor lainnya menyebabkan pastinya penyakit AI sulit dikontrol (Arifin, 2008). Belum lagi, pada awal tahun 2007, H9N2 LPAI yang menyebabkan penurunan produksi telur hingga 70% mulai terdeteksi di Indonesia.

            Newcastle Disease adalah penyakit viral berikutnya yang bersifat endemik dan menyebabkan kematian tinggi. Kasus yang dilaporkan di Indonesia sendiri berfluktuasi yaitu 201.196 di tahun 2002, 324.470 tahun 2003 dan 56.848 di tahun 2004 dan 120.323 kasus pada tahun 2005. Namun, perlu diingat bahwa kejadian yang sebenarnya mungkin lebih tinggi karena aplikasi diagnosa yang terbatas dan peternak yang seringkali tidak melaporkan kasusnya. Martindah (2017) mencermati di beberapa populasi broiler dan layer pejantan dapat terjadi satu-dua kali siklus ND pada peternakan dalam setahun, hal ini menunjukkan virus ini bersifat endemik dan terjadi tergantung musim. Penuturan peternak, ayam rentan terhadap penyakit ini terutama pada musim pancaroba (transisi) yaitu Oktober/November  (peralihan dari musim kemarau ke penghujan) dan Mei/Juni (peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau).

Berikutnya adalah IBD atau gumboro yang tetap menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan kematian tinggi, terutama untuk strain very virulent. Strain antigenic variant, yang tidak atau menimbulkan kematian yang rendah tetapi menimbulkan dampak imunosupresi yang berkepanjangan, secara global telah meluas ke banyak negara di 4 benua, dari kacamata penulis perlu dilakukan studi prevalensi di Indonesia.

Berbicara tentang infectious bronchitis, penyakit IB saat ini seringkali terjadi dikarenakan kurangnya proteksi vaksin  terhadap serotipe IB yang heterolog (Darminto, 1995). Dharmayanti (2003) menemukan beberapa strain virus variant di Indonesia dan situasi saat ini menunjukan jumlah strain variant yang lebih banyak sehingga penentuan program vaksinasi yang efektif memungkinkan menggunakan lebih dari satu serotipe (Dharmayanti, 2016).

Selain itu, kita masih dapat menjumpai kejadian Inclusion Body Hepatitis sebagaimana dikemukakan Pudjiatmoko (2018) bahwa penyakit ini pernah ada hampir di semua daerah di Indonesia, dan pernah di diagnosa secara histopatologi dari ayam ras petelur. Masih dalam agen infeksius viral, Avian metapneumovirus penyebab swollen head syndrome mulai teridentifikasi di sejumlah daerah, dari diskusi penulis dengan beberapa praktisi perunggasan, termasuk di area Jawa Timur dan Kalimantan, vaksin Avian metapneumovirus, baik vaksin live ataupun killed mulai digemari. Pada ayam petelur, vaksin live SHS menyebabkan berkurangnya gangguan pernafasan pada periode “laying” dimana gangguan pernafasan seringkali berkorelasi dengan  penurunan produksi telur.

Penyakit Bakterial, Mikotoksin dan Koksi

Penyakit bakterial contohnya Infectious Coryza (SNOT) merupakan salah satu penyakit peringkat atas dan seringkali terjadi di ayam petelur dan diprediksi masih menjadi momok bagi peternak. Kasus SNOT ditemukan banyak terjadi di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara dan telah dilaporkan oleh banyak peneliti (Putra, 2017).

Selanjutnya adalah Chronic Respiratory Diseease (CRD[DC1] ), yang menjangkit ayam pembibit dan komersial dan dari pengamatan penulis menyebar hampir di seluruh wilayah di Indonesia, ditambah dengan infeksi colibasilosis yang menyebakan penyakit CCRD[DC2] . Hal ini terkadang tidak terlepas dari infeksi virus sebagai agen pembuka pintu gerbang bagi infeksi bakterial.

Selain itu, kejadian mikotoksikosis masih kita jumpai dan terkadang turut berperan serta sebagai pintu gerbang penyakit.  Mikotoksikosis dapat menekan fungsi imun dan menurunkan resistensi terhadap penyakit infeksius (Corrier, 1991).  Penelitian Tangendjaja (2008) menunjukan beberapa mycotoxin diantaranya Aflatoxin, ochratoxin, zearalenone, fumonisin, deoxynivalenol, and T2 toxin terdeteksi di jagung yang digunakan sebagai bahan baku pakan hewan di Indonesia, dan jagung yang diimportasi dari USA dan Argentina terkontaminasi level mikotoksin yang lebih rendah dari jagung yang berasal dari lokal. Dari penelitian sejumlah sampel jagung local, 47% diantaranya ditemukan mengandung Aflatoxin di atas Standar Nasional Indonesia (SNI).[DC3] 

Kasus koksidiosis dan nekrotik enteritis diklaim banyak terjadi, terutama setelah dimulainya pelarangan antibiotik sebagai antibiotic growth promoter. Sebagai gambaran, Hamid (2018) meneliti bahwa di seluruh farm di Jawa Tengah, dari 699 sampel, 25.04% positif koksidiosis dengan broiler memiki prevalensi tertinggi (34%), diikuti dengan layer (26.26%) dan ayam kampung (10.45%). Dari sampel postif tersebut, tujuh spesies Eimeria ditemukan[DC4] .

Penerapan prinsip dasar, membuka ruang teknologi

Jika kita perhatikan, kurang dari 5% farm broiler di Indonesia yang menerapkan system closed house dengan sistem pakan, minum, dan kontrol suhu yang otomatis. Sisanya, mayoritas masih berupa kandang open house yang dibuat dari bambu, menggunakan sistem pakan dan minum yang manual (Brienen, 2014). Dengan tren pemanasan global dan iklim yang ekstrem, mortalitas di kandang open cenderung lebih tinggi dengan performa ayam yang kurang maksimal.

Walaupun beberapa negara telah berbicara tentang eradikasi penyakit, dengan kondisi di Indonesia saat ini, dasat pengontrolan penyakit harus terlebih dahulu dioptimalkan. Kita mungkin tidak dapat mencegah penyakit masuk ke kandang, tapi kita bisa menekan penyebarannya dan menurunkan dampak tingkat keparahan. Manajemen kesehatan pada peternakan harus merupakan kombinasi antara aplikasi biosekuriti, vaksinasi dan medikasi. Dan tidak lupa, pasca kebijakan pelarangan AGP, pemakaian antibiotik yang bertanggung jawab juga harus menjadi fokus utama. Terakhir, kita harus membuka ruang yang luas bagi masuknya teknologi untuk pendeteksian dan surveillance penyakit yang lebih menyeluruh. Sebagai contoh, komunitas di Negara Thailand merancang sistem surveillance dimana partisipasi volunteer dan aplikasi smartphone bernama Participatory One Health Disease Detection (PODD) memungkinkan pelaporan penyakit yang bersifat realtime dan tepat lokasi.



Pasca Pelarangan AGP: Perjalanan Masih Panjang

Oleh : Drh. Diptya Cinantya

(Dimuat di Majalah Infovet Edisi Juli 2019)

Diawali dengan inisiasi di Swedia pada tahun 1986, pelarangan Antibiotik Growth Promoters (AGP) diikuti oleh Denmark, Jerman, Finlandia secara bertahap terhadap beberapa jenis antibiotika, sebelum akhirnya diberlakukan secara menyeluruh di Uni  Eropa pada tahun 2006. Di Amerika, U.S. Food and Drug Administration  pada tahun 2004 melarang penggunaan Enrofloxacin dalam pakan hewan didasarkan kontribusinya pada resistensi terhadap agen pathogen di manusia (Graham et.al., 2007). Di Asia Tenggara sendiri, Thailand dan Vietnam menjadi contoh negara yang memberlakukan ini. Bahkan, pada tahun 2015, Thailand menargetkan pengurangan 30% antibiotik dalam 5 tahun ke depan.

Pelarangan AGP di Indonesia dan negara lain dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap resistensi antibiotik (AMR). Penggunaan antibiotika di indutri peternakan, sektor kedua terbesar setelah praktisi medis, dimana 40% nya digunakan sebagai growth promotor di samping terapi, menjadi satu hal yang dicermati.  Terkait hal ini, pertama kali dikemukakan oleh Starr & Reynold (1951) tentang resistensi streptomycin di ayam kalkun sebelum diikuti adanya laporan resistensi tetracyclin pada ayam yang diasosiasikan dengan pemberian AGP (Bray, 2008). Selain itu, kejadian menunjukkan “gen resistensi” antibiotik dapat terjadi dan ditransmisikan dari hewan ke mikrobiota manusia (Greko, 2001). Penggunaan AGP berlebih dalam pakan akan meningkatkan resiko AMR dan banyak studi menunjukkan AGP berkontribusi terhadap kontaminasi flok dan produk yang dihasilkan oleh bakteri Campylobacter, Salmonella, Enterococcus dan E. coli.

Observasi Pasca Pelarangan AGP

Di lapangan, pandangan dan hasil observasi peternak dan tenaga kesehatan pun beragam. Beberapa testimoni menunjukkan bahwa AGP berpengaruh terhadap performa ayam, antara lain dalam pertambahan bobot berat badan. Sebelum pelarangan AGP, ayam broiler umur 2 minggu, bobot 500 gram bukan hal yang sulit didapat. Setelah pelarangan AGP, rerata berat ayam 400 gram pada umur 2 minggu. Ada yang beranggapan banyak masalah pencernaan yang terjadi pasca pelarangan, sedangkan yang lain beranggapan bahwa insidensi kasus pencernaan seperti coccidiosis atau necrotic enteritis tidak mengalami perubahan yang signifikan.  Pandangan lain menyatakan, dicabutnya AGP (terutama di kandang closed house dengan situasi yang lebih terkontrol) tidak menimbulkan dampak berarti.

Walaupun pada awal pelarangan AGP, beberapa peternak mengkambing-hitamkan kebijakan ini sebagai penyebab turunnya performa, namun adanya observasi dan evaluasi, mereka menyadari masih banyak faktor lain yang turut berperan dalam naik turunnya performa ayam. Menurut pengamatan penulis, hal ini disebabkan peternak dan tenaga kesehatan yang lebih waspada dan melakukan perbaikan dari sisi manajemen maupun biosekuriti, serta mencari dan mencoba beberapa alternatif pengganti AGP.

Kandang modern, biosekuriti ketat dan praktik higienitas menjadi kunci dalam menjaga performa ayam agar tetap optimal. Satu hal yang didapat penulis dari berbincang dengan peternak yang juga sejalan dengan teori adalah mereka meyakini bahwa faktor utama dari pemeliharaan ayam ternak terletak pada kualitas pakan yang baik, sehingga sepanjang kualitasnya baik, maka pelarangan AGP bukanlah hal yang ditakuti.

Ironisnya, pasca pelarangan AGP, terjadi kenaikan tren penggunaan antibiotik, contohnya penggunaan medicated feed yang seringkali diberikan di peternak kemitraan, dimana pakan dan obat, vitamin, vaksinasi (OVK) telah diatur. Sayangnya, masih ditemui penambahan antibiotik dalam pakan yang dilakukan peternak tanpa resep dan pengawasan dokter hewan. Hal ini dikarenakan antibiotik untuk self-mixing sangat gampang didapatkan, bahkan banyak yang dijual bebas secara online dengan kata kunci “antibiotik pemacu pertumbuhan”.

 

Dari segi ekonomi, suatu penelitian yang mengobservasi produksi dalam satu tahun menunjukkan bahwa peniadaan AGP pada broiler komersial tidak mempengaruhi performa dan hasil produksi (Bray, 2008). Akan tetapi, diperlukan penelitian aktual untuk Indonesia yang memilki iklim, geografis dan kondisi peternakan yang berbeda.

 

Alternatif pengganti AGP

Mekanisme AGP dikaitkan dengan interaksi antara antibiotik dan populasi mikroba usus dengan tujuan untuk menghambat infeksi endemik subklinis dengan menurunkan “usaha” dari sistem imun non spesifik, menurunkan produk yang dihasilkan oleh mikroba dan dapat menekan pertumbuhan ayam, dan menurunkan penggunaan nutrisi oleh mikroba (Bray, 2008 ). Mikroflora usus yang dapat menghambat pertumbuhan ayam baik secara langsung atau tidak langsung dapat dikontrol dengan penggunaan AGP. Alternatif pengganti AGP banyak tersedia, walaupun sifatnya hanya bersifat “menambal” secara parsial, tidak menggantikan, namun beberapa terbukti memberikan hasil yang signifikan.

Beberapa hal dilakukan dengan peniadaan AGP dapat digolongkan menjadi beberapa kategori. Pertama, membatasi ketersediaan nutrien untuk bakteri usus, misalnya dengan meningkatkan kualitas dari pakan. Dengan makin baiknya kualitas pakan, maka komponen yang tidak dapat tercerna yang dapat menjadi “ladang” bagi pertumbuhan bakteri dapat dikurangi. Penambahan enzim yang meningkatkan daya cerna juga dapat menjadi pilihan. Selanjutnya, dengan meningkatkan dominasi bakteri baik, hal ini dapat dilakukan dengan prebiotik atau probiotik. Aktivitas antimikrobial juga bisa didapatkan dari asam organik, herbal, rempah atau essential oil.

Hal lain yang sama pentingnya adalah peningkatan imunitas dari hewan itu sendiri, yaitu dengan penggunaan vaksin, immune-modulator dan juga pemberian nutrisi. Vaksinasi sebagai upaya pencegahan dan perlindungan terhadap berbagai agen infeksius akan menjadi salah satu alat untuk menimalkan berbagai penyakit klinis yang beberapa diantaranya dapat menimbulkan immunosupresi. Mengurangi infeksi viral pun dapat mengurangi penggunaan antibiotik dikarenakan dapat meminimalisir misdiagnosa dan penggunaan antibiotik dalam kaitan pencegahannya terhadap infeksi sekunder (Urhan et al, 2017).

 

Penggunaan Antibiotik yang bertanggung jawab

Selain pelarangan antibiotik sebagai growh promoter, tujuan dari diterapkannya peraturan ini akan mengarah pengurangan antibiotik secara total. Hal ini sejalan dengan permintaan daging yang dihasilkan tanpa penggunaan antibiotik yang rutin mulai menjadi tren. Awal tahun 2015, McDonald’s mengumumkan hanya akan menyajikan ayam yang dipelihara tanpa menggunakan medically important antibiotic (tergolong penting di manusia) dalam 2 tahun ke depan di sekitar 14000 restaurant di Amerika. 

Pasca aturan pelarangan AGP, beberapa yang sudah dan dapat dilakukan yaitu antara lain reklasifikasi antibiotik, pengontrolan dalam pakan dan pembatasan medically important antibiotic, pengetatan distibusi dari farmasetik aktif, serta pengetatan aturan hukum jika terindikasi adanya penyalahgunaan obat secara illegal. Hal ini sejalan dengan rekomendasi OIE di samping perlunya melakukan monitoring terhadap jumlah antibiotik yang digunakan dan juga dilakukannya surveillance AMR. Pelarangan AGP ini merupakan langkah awal yang baik, namun masih diperlukan banyak langkah untuk mengantisipasi AMR.

Akhir kata, penulis ingin menyampaikan hasil investigasi Bureau, yang menunjukkan bahwa walaupun penjualan antibiotik di Amerika Serikat menurun sekitar 30% pada tahun 2017, namun US Food Safety Inspection Service  menunjukkan dari pemeriksaan ribuan sampel daging, antibiotik kritikal masih banyak digunakan dalam jumlah yang tak dapat diterima. Kesimpulan penulis adalah pelarangan AGP akan terasa percuma jika kita tidak menyadari akar masalah dan tujuan dari diterapkannya peraturan ini, sehingga alih-alih berusaha mengurangi pemakaian antibiotik untuk mencegah resistensi, pemakaian antibiotik yang tidak bertanggung jawab akan semakin meningkat.


Saturday, 31 May 2014

Resistensi Antibiotik: Berbahaya dan Perlu (Dicari) Solusinya*

Oleh : Diptya Cinantya
Suatu peternakan selayaknya memperhatikan dua aspek manajemen yang penting, yaitu manajemen pemeliharaan serta manajemen kesehatan. Manajemen pemeliharaan menyangkut segala aspek yang terkait dengan tata cara pembesaran atau budidaya, sedangkan manajemen kesehatan mencakup seluruh upaya agar didapatkan hewan yang sehat dan bebas dari segala penyakit. Terkait dengan manajemen kesehatan, disadari atau tidak, upaya pencegahan maupun penanggulangan penyakit dengan menggunakan berbagai macam jenis obat, terutama antibiotika, tenyata mempunyai berbagai efek samping yang tidak kita sadari, satu efek sampingnya adalah resistensi antibiotik. Momok menakutkan yang sudah menjadi perbincangan sejak lama ini juga dapat bersumber dari segi manajemen pemeliharaan yang tidak kita sadari mempunyai efek tidak langsung, yaitu penggunakan antibiotik pada pakan sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoter) dan imbuhan pakan (feed additive).
Sering Tak Disadari
                Peternak, yang biasanya mempunyai pengetahuan yang terbatas tentang kefarmasian dan aturan penggunaan obat biasanya manut dengan apa yang ditawarkan dan dianggap baik bagi mereka. Kasus pada peternakan dengan pola kemitraan contohnya, paket obat yang ditawarkan, antar lain antibiotik, akan langsung digunakan untuk gejala penyakit yang dianggap sesuai dengan suatu jenis antibiotik tersebut.  Anjuran dan pengawasan penggunaan obat, baik dari dokter hewan misalnya atau petugas lapangan terkadang tidak diterapkan baik karena pertimbangan feeling  atau sisi ekonomis. Indisipliner  ditunjukkan dengan penggunaan antibiotik yang terus-menerus selama hewan dirasa belum sembuh serta penghentian antibiotik ketika hewan sudah tidak menunjukkan gejala padahal masa pengobatan belum habis. Belum lagi, berbagai paradigma yang salah justru makin digemari karena efek semu menguntungkan, Penggunaan antibiotik murni, tanpa merek dagang yang digandrungi karena harganya yang lebih murah dan diklaim lebih manjur. Aturan hukum tentang kelegalan dan penggunaan obat keras pun dilangkahi contohnya dengan dosis yang dibuat hanya berdasarkan pengalaman dan menyalahi aturan pakai. Hal-hal tersebut merupakan berbagai tindakan yangdapat menyebabkan resitensi antibiotik.
                Resistensi antibiotik adalah kemampuan bakteri atau mikroba untuk bertahan terhadap efek dari suatu antibiotik. Hal ini mempunyai dampak yang mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta agar praktek pemberian antibiotik yang merangsang pertumbuhan pada pakan ternak dihentikan.1 Bahkan Uni Eropa telah melarang beberapa jenis antibiotik sebagai growth promoter pada pakan ternak.2 Penggunaan antibiotik dengan dosis rendah yang terus menerus dapat menyebabkan mikroba patogen (dapat menyebabkan penyakit) beradaptasi terhadap “serangan” antibiotik tersebut, di samping dikhawatirkan dapat membunuh mikroorganisme usus yang menguntungkan. Dampak pada sektor perdagangan pun terasa, seiring dengan dugaan bahwa keserampangan penggunaan antibiotik paling banyak terjadi pada peternakan babi dan ayam, upaya ekspor ternak kedua hewan tersebut selalu menemui kendala.
Berbagai macam terobosan
                Kajian, wacana dan upaya menyikapi masalah resistensi antibiotik yang memang telah lama terjadi sudah diterapkan dan digulirkan. Penggunaan probiotik sebagai bahan aditif pengganti antibiotik  telah direkomendasikan karena dapat meningkatkan kualitas pakan ternak di samping mengurangi efek residu antibiotik. Contoh lainnya yaitu pemanfaatan tepung cacing tanah sebagai suplemen pakan unggas sebagi pengganti antibiotik komersial. Terobosan terbaru untuk menghasilkan produk pangan asal hewan yang lebih sehat pun terlah dilakukan.  Wacana ayam herbal yang memperbarui wacana ayam organik telah mulai diperkenalkan, yaitu ayam ayam yang yang dibudidaya secara alami menggunakan pakan racikan khusus serta penggunaan suplementasi jamu ternak sebagi pengganti obat-obatan. Dengan begitu, diharapkan daging ayam yang dihasilkan mempunyai kualitas yang lebih baik. Ayam herbal diklaim memiliki daging yang lebih berkualitas, kadar lemak lebih rendah, serat daging lebih padat, aroma daging lebih segar, rasa yang lebih enak di samping tentunya memiliki residu antibiotik yang sangat sedikit. Ada lagi peptidobitik, yaitu senyawa peptida pengganti antibiotik sebagai feed additives yang berfungsi untuk mengendalikan mikrobamerugikan dalam saluran pencernaan ternak. Peptidobiotik mempunyai keunggulan yaitu tidak meninggalkan residu dalam tubuh ternak.
                Segala terobosan itu bukkannya tanpa halangan. Penggunaan probiotik atau tepung cacing tanah misalnya, ternyata tidak berimplikasi nyata selama pakan yang digunakan adalah pakan ayam komersial yang di dalamnya masih terkandung antibiotik. Ayam herbal pun, karena skala produksi yang masih kecil, harganya relatif lebih mahal dibandingkan ayam broiler biasa, selain diperlukan kajian lebih lanjut tentang ramuan jamu yang digunakan dengan memperhitungkan nilai ekonomis. Sedangkan wacana peptidobiotik memerlukan kajian lebih lanjut tentang sumber-sumber yang dapat digunakan sebagai penghasil senyawa peptida.
Penyikapan Masalah
Sebagai kalangan yang mengerti atau dianggap mengerti, yaitu profesi kesehatan, contohnya dokter hewan mempunyai tanggung jawab dalam menyikapi  permasalahan tersebut. Salah satunya adalah sosialisasi dan merubah paradigma masyarakat, khususnya para pelaku yang terkait dengan sektor peternakan. Pemahaman bahwa segalanya harus dimulai dengan manajemen kandang yang baik, yang salah satu pilar utamanya adalah biosekuriti perlu ditularkan. Lingkungan yang baik tentunya akan mencegah terjadinya penyakit serta menekan penggunaan obat yang sesungguhnya tidak diperlukan, di samping mendukung proses penyembuhan penyakit apabila terlanjur terjadi. Selanjutnya adalah peningkatan kompetensi kalangan profesi kesehatan. Pemahaman yang baik tentang penyakit, diagnosa dan pengobatan spesifik bagi penyakit pun mutlak diperlukan. Contohnya dokter hewan yang mempunyai kewajiban untuk  menegakkan diagnosa yang tepat sehingga dapat menghindari antibiotik broad spectrum (spektrum luas) yang akan ikut mematikan organisme bukan penyebab penyakit dan dapat menggunakan antibiotik  narrow spectrum yang lebih spesifik.  Memberikan payung hukum yang sesuai adalah langkah selanjutnya. Upaya pengawasan lalu lintas obat, walaupun sulit, dapat sedikit demi sedikit dibenahi, contohnya adalah pelarangan penjualan obat murni kepada pihak yang tidak berwenang. Meniru himbauan WHO dan mengikuti langkah Uni Eropa dan negara lain, larangan penggunaan beberapa jenis antibiotik dalam pakan ternak dapat diikuti. Terakhir adalah riset dan penelitian, yang harus sejalan dengan upaya-upaya di atas. Penelitian tentang bahaya resistensi antibiotik perlu terus dilakukan dengan diikuti riset mengenai terobosan-terobosan yang dapat menggantikan atau setidaknya mengurangi penggunaan antibiotik contohnya kajian tentang khasiat berbagai macam obat tradisional serta ramuannya, diikuti upaya pematenan sehingga dapat diterapkan pada ternak skala besar.

                  
1       European Commission, 1998. Commission Regulation of Amending Council Directive 70/524/DEC Concerning Additives in Feedingstuffs as Regards Withdrawal of Authorization of Certain Antibiotics. No. VI/7767//98, Brussels, Belgium
2       World Health Organization, 2000. WHO Global Principles d\for the Containment of Antimicrobial Resistance in Animals Intended for Food. Pages 1-23 in document WHO/CDS/CSR/APH/2000.4  WHO, Geneva


 *artikel ini ditulis dalam rangka lomba penulisan artikel ilmiah populer yg diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia tingkat nasional tahun 2012 dan menduduki peringkat ke-2.

Kejadian Ascites pada Ayam Broiler



Oleh: Diptya Cinantya

Selama masa pemeliharaan ayam pedaging (broiler), terkadang kita menjumpai ayam dengan perut yang menggembung yang ketika diraba terasa keras terisi cairan dan ketika dibuka, rongga perut terisi cairan bening kekuningan. Itulah yang disebut ascites, penimbunan cairan dalam rongga perut. Jika kita amati dengan seksama, ayam yang mengalami ascites dapat kita kenali diantara sekian banyak ayam yang dipelihara. Ayam tersebut akan cenderung untuk berdiri dengan posisi seperti kedinginan atau nyekukruk, dan bulu kusut dan berdiri terutama di sekitar leher. Ayam cenderung untuk lebih sering berdiri karena jika duduk atau berbaring, cairan di dalam perut (abdomen) akan mendesak ke arah jantung. Ini pula yang menjelaskan kenapa ayam yang mengalami ascites dapat mati seketika ketika tubuhnya dibalikkan terutama dengan posisi kepala lebih rendah dari badan, karena cairan dalam abdomen akan mengali dan mendesak jantung atau paru-paru. Ketika dibalik, perut ayam terlihat kembung dan ketika diraba terisi cairan, lambung (ventrikulus) ayam yang sering kita sebut empedal (jeroan) juga tidak teraba dari luar perut karena cairan yang memenuhi rongga perut. Berkaitan dengan gagalnya fungsi jantung untuk mendaptkan oksigen, ayam pun  terlihat megap-megap sesekali dan berusaha mencari oksigen. Ayam cenderung untuk terpisah dari kerumunannya dan mencari lokasi di pinggir sekatan. Ayam pun seringkali memejamkan mata dan tampat merasakan sesuatu dalam tubuhnya.
Ascites terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan okseigen yang diminta oleh tubuh. Jantung yang berdenyut lebih cepat untuk merespon panggilan itu menyebabnya meningkatnya aliran darah ke paru-paru dan jaringan tubuh. Ketika paru-paru ayam sudah tidak dapat menahan derasnya aliran darah dari jantung, aliran darah dengan tekanan yang tinggi tersebut akan kembali ke jantung, hati dan rongga perut. Hal ini yang menyebabkan terjadinya kerusakan jantung terutama bagian ventrikel kanan.  Pembuluh darah, baik yang menyuplai hati dan berada di usus pun membesar, mengakibatkan membesarnya hati dan, lebih jauhnya cairan dalam jaringan akan “merembes” keluar ke rongga perut.

Ascites - Showing distended abdomen filled with fluid.
Ascites - Perbesaran abdomen karena terisi cairan

Kejadian ascites yang tinggi dapat kita amati pada ayam broiler. Mengapa? Karena permintaan oksigen yang tinggi merujuk pada metabolisme yang tinggi pada ayam broiler. Metabolisme tinggi terjadi karena ayam broiler “dipaksa” untuk tumbuh cepat.  Hal ini berkaitan dengan prinsip bahwa darah bertugas untuk membawa oksigen dan sari-sari makanan yang  tentunya lebih tinggi jumahnya seiring dengan asupan pakan broiler yang juga tinggi. Di sisi yang lain, oksigen tersebut juga berfungsi menjaga suhu optimum dan fungsi tubuh.
Dalam kondisi yang normal, segala konsekuensi yang harus terjadi pada ayam broiler tentunya dapat diatasi oleh tubuh. Akan tetapi hal ini tentunya berbeda jika banyak hal mengintervensi mekanisme tubuh tersebut. Hal itu antara lain ventilasi yang buruk, yang meliputi kelembaban, suhu dan kandungan karbondioksida serta amonia tinggi yang tidak dibarengi dengan kecepatan aliran udara yang mumpuni. Selain itu kualitas DOC, penyakit yang mengganggu saluran pernafasan pun dapat memperparah kejadian ascites.
Ascites dapat dengan mudah terjadi pada peternakan ayam broiler, tapi tentu kita bisa meminimalisir faktor-faktor yang mempertinggi kejadian. Pertama, kita harus memanjakan kerja jantung ayam dan tidak membiarkannya untuk bekerja lebih keras. Karbondioksida dan ammonia yang tinggi tentu akan memberatkan kerja jantung karena selain menyuplai oksigen, jantung masih harus bekerja ekstra untuk mengeluarkan karbondioksida dan ammonia tersebut. Membuat ventilasi yang baik dengan mengatur arus angin optimum yang harus masuk dan keluar merupakan salah satu solusi. Selain itu kita juga harus memperhatikan kelembaban litter karena kelembaban litter tinggi juga berarti ammonia yang tinggi. Selain itu litter yang kering dan didisinfeksi terlebih dahulu akan sangat baik digunakan. Kedua, kita harus membuat ayam nyaman dan meminimalisir stress. Ayam yang stress akan membuat metabolisme tubuh ayam menjadi lebih tinggi karena ia akan menggunakan energi dan nutrisi yang didapatnya untuk mengatasi stress tersebut. Hal ini tentunya akan memperparah kerja tubuh terutama ayam broiler yang memang sudah bermetabolisme tinggi. Perlakukan ayam secara hati-hati. Minimalkan banyak variasi seperti variasi program pencahayaan, disamping melakukan penggantian pakan dan tempatnya serta gallon air minum secara bertahap. Terakhir, jika diperlukan, kita dapat memberikan suplemen bagi tubuh ayam. Cairan elektroit sebagai pengganti tubuh yang dilengkapi vitamin, terutama vitamin C diharapkan dapat menurunkan tingkat stress pada ayam.