Dimuat di Vetnesia edisi Desember 2019
Industri
unggas merupakan yang tidak pernah berhenti untuk berkembang. Merujuk pada
Statista 2019 dan WATT 2018, pada tahun 2017, terdapat 22,85 miliar ayam di
dunia, meningkat hampir 60% dibandingkan dengan tahun 2000 dengan populasi
14.38 miliar ayam dengan produksi daging mencapai 123 juta ton pada tahun 2018 dan diprediksi meningkat
menjadi 139 juta metrik ton pada tahun 2027. Hal ini belum mencakup produksi
telur yang mencapai 74 juta metrik ton di tahun 2018. Dan sejalan dengan
peningkatan populasi, penyakit unggas tetap menjadi tantangan utama terhadap
industri. Sebagai gambaran, Biggs (1982) melaporkan total cost dari
pengontrolan penyakit mencakup 20% dari nilai gross produksi (GVP) dan bisa
mencapai tiga kali lipat yang berasal dari kerugian akibat kematian. Penulis
mencoba merangkum tren penyakit unggas selama dua-dan lebih fokus ke satu- dekade
terakhir untuk melihat bagaimana dinamika penyakit secara global terutama
digolongkan berdasarkan dampak yang ditimbulkan.
Penyakit
catastrophic
Dengan tingginya angka kematian dan kecepatan penyebaran
yang tinggi, penyakit Avian Influenza (AI), terutama bentuk high pathogenic, memang selalu menjadi primadona
dalam penyakit yang paling banyak ditakuti. Dengan persistensi di unggas
domestik selama 23 tahun, AI telah emnjaid penyakit endemis di banyak negara
termasuk Asia Tenggara, Afrika Utara dan Barat, termasuk oubreak sporadic di
benua Eropa. Ditambah lagi adanya concern
kemungkinan mutasi genetic dari virus yang mengakibatkan perubahan dari
komponen genetic yang menyebabkan strain unggas menjadi pathogen ke manusia.
Data WHO menyebutkan bahwa kasus pada manusia akibat Avian Influenza A (H5N1)
di seluruh dunia dari tahun 2003-2019 yaitu sebanyak 861 kasus dengan 455 kasus
diantara meninggal dunia. Setelah melewati empat pandemic, saat ini
identifikasi bahwa seluruh subtype virus Infuenza A terdapat pada babi dan bebek
yang bermigrasi dan di dalam danau tempat mereka bersarang, menyebabkan seluruh
16 subtipe HA dan 9 NA sebagai kandidat potensial terhadap kemungkinan
terjadinya pandemik di masa depan tidak dapat kita kesampingkan (Kida, 2019)
Selanjutnya
adalah Newcastle disease velogenik, yang tidak hanya menjadi masalah serius di
negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit ini berrsifat endemik di
60% negara di seluruh dunia, dengan pengecualian di Amerika utara. Newcastle disease pandemic ke 4 dipercaya
terjadi pada akhir tahun 1980s yang banyak disebabkan genotype VII dan VIII mengakibatkan
kerugian ekenomi pada banyak negara di Asia tenggara, eropa, afrika dan
amerika. Saat ini, diketahui banyaknya ekspansi secara geografis dengan
identifikasi dari subgenotipe VIIh dan VIIi, kita perlu mengansipasi panzootic
kelima. Dalam tahun-tahun belakangan, oubreak ND berlanjut di berbagai bagian
asia, afrika, eropa dan amerika utara. ND bersifat endemic di 60% negara di
seluruh bagian dunia. Sejauh ini 42 negara telah melaporkan hampir 4000 outbreak
ND sejak 2008 (Liu, 2019).
Yang
tidak kalah terkenal dengan tingkat kematiannya yang tinggi adalah very
virulent infectious bursal disease (IBD). Dari 36 negara yang tersebar ke dalam
5 benua, penggabungan klasifikasi oleh
valls (2019) dan Michael Jackwood (2017) menemukan bahwa 21 negara di 4
benua teridentifikasi adanya vvIBD. Sedangkan IBDV tipe klasik terdapat pada 26
negara yang tersebar di seluruh benua. Variant virus, sampai dengan februari
2019, terdentifikasi meluas ke 13 negara dalam 4 benua. IBD terakhir,
dikarenakan dampaknya yang rendah tapi menimbulkan efek berkepanjangan, dapat
digolongkan ke dalam tipe ke dua, erosive disease.
Erosive
disease
Penggolongan selanjutnya
adalah penyakit erosive yang banyak didominasi oleh penyakit pernafasan dan
pencernaan, termasuk pula yang menyerang system imun (Shane, 2010). Selain itu,
faktor immunosupresi yang dtimbulkan menyebabkan penurunan pada respon terhadap
vaksinasi terutama pada ayam muda dan peningkatan resiko terhadap infeksi penyakit
lainnya. Akan tetapi, kondisi immunosupresif ini seringkali tidak disadari dan
menjadi penyebab penyakit yang silent,
namun pada kenyatannya menyebabkan kehilangan ekonomi yang lebih tinggi karena
dampaknya dalam jangka waktu lama dibandingkan dengan kematian “lansung” dalam
waktu pendek .
Selain IBD,
Infectious bronchitis tipe variant mulai banyak teridentifikasi di dseluruh
dunia. Secara global, dari 38
negara dari 4 benua dalam periode 20009-2018, Dolz (2019) melaporkan bahwa
secara global, genotype QX merupakan IB lapangan yang paling banyak terdeteksi
di broiler, sedangakn 793B merupakan genotype yng plaing banyak terdetreksi di
longlife birds (layer dan broiler breeder).
Selanjutnya
adalah koksidiosis, yang menyebabkan kerugian sebesar tiga miliar euro per
tahun, yang terdiri tidak hanya koksidiosis klinis, namun juga subklinis yang
prevalensinya mencapai 20% di seluruh dunia. Urgensi pemeliharaan broiler tanpa
antibiotik atau beberapa golongan koksidiostat, mengakibatkan vaksin antikoksi
yang efektif perlu diterapkan, termasuk terobosan vaksin yang menggunakan adjuvant
yang bersifat immunomodulator.
Emerging disease
Penyakit
emerging disease merupakan penyakit yang menurut pengamatan penulis memiliki
dinamika yang sangat menarik. Penggolongan penyakit ini bisa merupakan
penyakit baru yang sebelum tidak pernah terjadi atau penyakit yang sudah
dikenali sebelumnya namun penyebabnya belum secara jelas diketahui (Bagust,2013).
Sedangkan menurut WHO, emerging disease dapat dikategorikan sebagai penyakit
yang telah ditemukan sebelumnya namun terjadi peningkatan baik dari segi inseidensi atau area
geografis.
Beberapa penyakit yang telah disebutkan sebelumnya,
seperti IBD Variant (yang terdentifikasi pada ayam broiler di Kanada (Senei,
2019)) dan juga IB Variant termasuk ke dalam emerging disease di beberapa
negara. Lalu ada Avian
metapneumovirus yang banyak terjadi di layer komersil dan broiler breeder di
Myanmar ( Aung, 2019) serta infeksi Mycoplasma Synoviae di layer
komersial.
Yang juga ramai terdengar beberapa tahun
belakangan adalah inclusion body hepatitis (IBH) yang menyebakan kerugian
ekonomi yang besar di US dan Kanada,
(Dar, 2012), dan bersifat endemic di
India (Kumar, 2013) serta merupakan saalh satu penyakit yang memilki prevalensi
paling tinggi pada broiler sebanyak 10.4% pada periode 2010-2014 (gawel, 2016). Di Indonesia sendiri, penyakit ini pernah ada
hampir di semua daerah dan pernah didiagnosa secara histopatologi dari ayam ras
petelur (Pudjiatmoko, 2018). Sedangkan dari kluster bacterial, Enterococcus
cecorum merupakan salah
satu emerging pathogen di unggas yang menyebabkan femoral head nekrosis dan
spondylitis di broiler (Jung, 2014)
Penyakit Zoonosis
Selain Avian influenza, penyakit zoonosis banyak terdapat pada
aspek kesehatan pangan. Campylobacter di manusia, merupakan penyebab diare-bakterial
yang paling tinggi di negara berkembang dengan jumlah kejadian di Amerika
sebanyak 850.000- sampai lebih dari 2 juta kasus di US dan lebih darin 70%
kasus di seluruh dunia yang etrkait dengan konsumsi daging ayam daging unggas
(dale, 2003), diikuti oleh Salmonella spp. di telur yang terkontaminasi, serta
E.coli yang menyebabkan pencemaran air.
Seiring
perkembangan teknologi, sinergi terus dihasilkan dalam banyak aspek utama
termasuk manajemen, operkandangamn, nutrisi, dan formulasi pakan, serta
penerapan pengetahuan gemetik di program breeding komersial dan diikuti dengan
diagnose dan pengontrolan penyakit yang lebih baik, semua hal ini menyebakan
penyakit unggas bukan hal ayng sulit untuk diprediksi (FAO, 2013). Seperti yang
dilakukan Astill et. Al (2018) ayng menerapkan teknologi barui dan “big data:”
dalam mendeteksi dan memporediksi Avian Influenza. Hal ini meliputi deteksi
cepat dengan diagnostic berteknologi, pengumpulan data dengan model prediktif
berbasis internet dan environmental data, yang bisa digunakan untuk system
support yang bisa memprediksi kapan dan dimana penyakit ini akan muncul. Namun,
bagaimanapun usaha yang dilakukan, dengan virus yang terus menerus bermutasi,
kita harus menerima kenyataan bahwa strain virus yang baru dan problem penyakit
akan terus berdatangan di masa depan.
