Oleh: Diptya Cinantya
Selama masa pemeliharaan ayam pedaging (broiler),
terkadang kita menjumpai ayam dengan perut yang menggembung yang ketika diraba
terasa keras terisi cairan dan ketika dibuka, rongga perut terisi cairan bening
kekuningan. Itulah yang disebut ascites, penimbunan cairan dalam rongga perut.
Jika kita amati dengan seksama, ayam yang mengalami ascites dapat kita kenali
diantara sekian banyak ayam yang dipelihara. Ayam tersebut akan cenderung untuk
berdiri dengan posisi seperti kedinginan atau nyekukruk, dan bulu kusut dan berdiri terutama di sekitar leher.
Ayam cenderung untuk lebih sering berdiri karena jika duduk atau berbaring,
cairan di dalam perut (abdomen) akan mendesak ke arah jantung. Ini pula yang
menjelaskan kenapa ayam yang mengalami ascites dapat mati seketika ketika
tubuhnya dibalikkan terutama dengan posisi kepala lebih rendah dari badan,
karena cairan dalam abdomen akan mengali dan mendesak jantung atau paru-paru.
Ketika dibalik, perut ayam terlihat kembung dan ketika diraba terisi cairan,
lambung (ventrikulus) ayam yang sering kita sebut empedal (jeroan) juga tidak
teraba dari luar perut karena cairan yang memenuhi rongga perut. Berkaitan
dengan gagalnya fungsi jantung untuk mendaptkan oksigen, ayam pun terlihat megap-megap sesekali dan berusaha
mencari oksigen. Ayam cenderung untuk terpisah dari kerumunannya dan mencari
lokasi di pinggir sekatan. Ayam pun seringkali memejamkan mata dan tampat
merasakan sesuatu dalam tubuhnya.
Ascites terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah
permintaan okseigen yang diminta oleh tubuh. Jantung yang berdenyut lebih cepat
untuk merespon panggilan itu menyebabnya meningkatnya aliran darah ke paru-paru
dan jaringan tubuh. Ketika paru-paru ayam sudah tidak dapat menahan derasnya
aliran darah dari jantung, aliran darah dengan tekanan yang tinggi tersebut
akan kembali ke jantung, hati dan rongga perut. Hal ini yang menyebabkan
terjadinya kerusakan jantung terutama bagian ventrikel kanan. Pembuluh
darah, baik yang menyuplai hati dan berada di usus pun membesar, mengakibatkan
membesarnya hati dan, lebih jauhnya cairan dalam jaringan akan “merembes”
keluar ke rongga perut.

Ascites
- Perbesaran abdomen karena terisi cairan
Sumber
: http://www.avpa.asn.au/
Kejadian ascites yang tinggi dapat kita amati pada
ayam broiler. Mengapa? Karena permintaan oksigen yang tinggi merujuk pada
metabolisme yang tinggi pada ayam broiler. Metabolisme tinggi terjadi karena
ayam broiler “dipaksa” untuk tumbuh cepat.
Hal ini berkaitan dengan prinsip bahwa darah bertugas untuk membawa
oksigen dan sari-sari makanan yang
tentunya lebih tinggi jumahnya seiring dengan asupan pakan broiler yang
juga tinggi. Di sisi yang lain, oksigen tersebut juga berfungsi menjaga suhu
optimum dan fungsi tubuh.
Dalam kondisi yang normal, segala konsekuensi yang
harus terjadi pada ayam broiler tentunya dapat diatasi oleh tubuh. Akan tetapi
hal ini tentunya berbeda jika banyak hal mengintervensi mekanisme tubuh
tersebut. Hal itu antara lain ventilasi yang buruk, yang meliputi kelembaban, suhu
dan kandungan karbondioksida serta amonia tinggi yang tidak dibarengi dengan
kecepatan aliran udara yang mumpuni. Selain itu kualitas DOC, penyakit yang
mengganggu saluran pernafasan pun dapat memperparah kejadian ascites.
Ascites dapat dengan mudah terjadi pada peternakan
ayam broiler, tapi tentu kita bisa meminimalisir faktor-faktor yang
mempertinggi kejadian. Pertama, kita harus memanjakan kerja jantung ayam dan
tidak membiarkannya untuk bekerja lebih keras. Karbondioksida dan ammonia yang
tinggi tentu akan memberatkan kerja jantung karena selain menyuplai oksigen,
jantung masih harus bekerja ekstra untuk mengeluarkan karbondioksida dan
ammonia tersebut. Membuat ventilasi yang baik dengan mengatur arus angin
optimum yang harus masuk dan keluar merupakan salah satu solusi. Selain itu
kita juga harus memperhatikan kelembaban litter karena kelembaban litter tinggi
juga berarti ammonia yang tinggi. Selain itu litter yang kering dan
didisinfeksi terlebih dahulu akan sangat baik digunakan. Kedua, kita harus membuat
ayam nyaman dan meminimalisir stress. Ayam yang stress akan membuat metabolisme
tubuh ayam menjadi lebih tinggi karena ia akan menggunakan energi dan nutrisi
yang didapatnya untuk mengatasi stress tersebut. Hal ini tentunya akan
memperparah kerja tubuh terutama ayam broiler yang memang sudah bermetabolisme
tinggi. Perlakukan ayam secara hati-hati. Minimalkan banyak variasi seperti
variasi program pencahayaan, disamping melakukan penggantian pakan dan
tempatnya serta gallon air minum secara bertahap. Terakhir, jika diperlukan,
kita dapat memberikan suplemen bagi tubuh ayam. Cairan elektroit sebagai
pengganti tubuh yang dilengkapi vitamin, terutama vitamin C diharapkan dapat
menurunkan tingkat stress pada ayam.
No comments:
Post a Comment